Pacaran Kok (Tidak) di Kampus


Pacaran Kok (Tidak) di Kampus

SUNGGUH, pacaran di kampus itu murah lagi meriah. Murah, karena tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menyewa kursi di kafe plus menebus menunya. Apalagi jika tak punya kendaraan sendiri untuk ke sana.

Meriah, karena kampus kita di bukit Sekaran ini, nyaris tak pernah sunyi senyap dari kunjungan orang, terutama mahasiswa. Ada-ada saja aktivitas mereka, mulai dari bermusik, diskusi, hingga  hotspot-an. Yang disebut terakhir inilah yang kerap kali diprasangkai sebagai aktivitas berpacaran secara terselubung.

Sulit dimungkiri bahwa dalam jumlah yang tak terbilang sedikit, mahasiswa di kampus kita tergolong miskin secara finansial. Alih-alih ngebosi pacarnya kongkow-kongkow di kafe macam E-Plaza, untuk memenuhi referensi yang dituntutkan oleh dosen saja memfotokopi dengan kertas buram.
Itu pun terkadang harus dengan menyunat jatah makan. Yang buat orang “normal” makan 3x sehari, mereka terpaksa sehari 2x saja. Sarapan menjelang  siang, makan berikutnya tidak begitu jelas makan siang atau malam. Lauk pun harus “menyesuaikan”. Kalau tidak dengan tempe penyet, paling banter juga sega kucing.
Dengan menu seperti itu, juga dengan pola makan yang tak “wajar” begitu bisa dipastikan efeknya esok pagi. Mereka mesti antre di depan WC kos lantaran diare. Ya, antre karena jumlah WC di kos tidak sebanding dengan jumlah penghuni. Pak kos tahunya penghuni rumahnya, tapi gak terlalu mikir bahwa mereka juga butuh fasilitas umum macam itu.

Kalau WC saja gak kepikir, apalagi ruang tamu buat menerima pacar yang mau apel.  Sulit rasanya sekarang menemukan kos-kosan yang kondusif buat pacaran. Paling banter, seperti yang direkam oleh buku Sex in the Kos, “Masukkan pacar ke dalam kamar dan putar musik kenceng-kenceng. Jangan lupa pula masukkan sepatu atau sandal, biar gak ada yang curiga”.

So, saya masih menganggap, pacaran –ini kebutuhan paling primer buat mereka yang lagi puber!”– di kampus tidak hanya murah dan meriah, tapi juga relatif  “aman”. 

Meski begitu, mereka yang terpaksa atau memang memilih pacaran  di kampus mesti waspada. Sebab, tak ubahnya yang menjajakan cinta di pinggiran jalan protokol Kota Semarang, sewaktu-waktu mereka bisa kena garukan. Alamak!

–Rochsid Tehape, mahasiswa semester paling akhir di Jurusan Matematika FMIPA Unnes

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X