Mewujudkan Rumah Ilmu Ramah Difabel


Mewujudkan Rumah Ilmu Ramah Difabel

SETIAP tanggal 3 Desember diperingati sebagai Hari Difabel Internasional. Peringatan ini digagas untuk mengetuk kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap kaum difebel. Kepedulian itu dapat direpresentasikan dalam bentuk sikap positif, dan tentu saja: memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada kaum difabel di berbagai bidang kehidupan.

Kata difabel berasal dari kata differently able (mampu secara berbeda) atau different ability (kemampuan berbeda). Kata ini digunakan sebagai pengganti kata “penyandang cacat” pada seseorang baik memiliki kelainan fisik maupun mental seperti tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, tunagrahita maupun lainnya.

Kesetaraan Hak

Negara Republik Indonesia memberikan pengakuan hak yang setara kepada kaum difabel. Pengakuan, sekaligus jaminan, bagi kaum difabel tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 5 Ayat 1 dan 2.

Pada ayat satu disebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Ayat dua menyebutkan bahwa, warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 Pasal 10 tentang penyandang disabilitas mengamanahkan bahwa hak pendidikan untuk penyandang disabilitas meliputi hak mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan secara inklusif dan khusus.

Berdasarkan amanah undang-undang tersebut, kaum difabel memiliki hak yang sama untuk dapat menempuh pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Difabel juga meliki kemampuan yang dapat bersaing dengan orang pada umumnya. Harusnya tidak ada lagi difabel dipandang sebelah mata.

Difabel tidak selamanya harus menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), difabel berhak menempuh pendidikan di sekoah umum termasuk perguruan tinggi. Pendidikan adalah hak untuk setiap warga negara, maka tanpa adanya diskriminatif akan terwujud tujuan pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan tinggi mampu memajukan peradaban, maju mundurnya suatu negara bergantung pada sumber daya manusia. Sehingga peningkatan kualitas SDM termasuk difabel perlu diupayakan.

Kampus Ramah Difabel

Perguruan tinggi dituntut untuk siap menjadi rumah ilmu bagi mahasiswa yang beraneka ragam. Untuk mewujudkan perguruan tinggi sebagai rumah ilmu yang ramah difabel, perlu adanya keseriusan kebijakan perguruan tinggi.  Program kuota 1% mahasiswa difabel dari total penerimaan mahasiswa baru yang diterima setiap tahun dapat diterapkan sebagai upaya pemerataan pendidikan tinggi bagi difabel.

Untuk mewujudkan perguruan tinggi sebagai rumah ilmu yang ramah difabel tentunya ada tantangan. Di antaranya perlu peningkatan kemampuan dosen dalam mengajar difabel dan menciptakan lingkungan infrastruktur kampus yang ramah difabel.

Segala tantangan yang dihadapi, tentunya dapat terselesaikan selama ada kerja sama dan keseriusan pihak yang memiliki kebijakan. Kebijakan tersebut dapat terwujud dengan terbentuknya pusat layanan khusus mahasiswa difabel di perguruan tinggi.

Agus Ja’far, mahasiswa tunanetra, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Unnes

 

 

satu komentar pada “Mewujudkan Rumah Ilmu Ramah Difabel

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X