Memperkuat Fungsi Asrama Calon Guru


Memperkuat Fungsi Asrama Calon Guru

Di awal kemerdekaan para guru memiliki status sosial yang cukup tinggi di tengah masyarakat. Mereka dihormati sekaligus disegani. Status sosial demikian diimbangi dengan persona guru yang berilmu sekaligus berkepribadian.

Namun, sejalan dengan perkembangan zaman, status sosial guru mengalami kemunduran. Terlebih setelah krisis tahun 1990-an hingga memasuki era reformasi, ketika tuntutan pembangunan pendidikan semakin membutuhkan biaya besar, sementara kemampuan negara sangat terbatas (Bedjo Sujanto, 2010).

Gejala ini menjadi kegelisahan masyarakat. Kemuliaan sosial guru berada pada grafik turun. Prestis sosial yang pernah dinikmati kian pudar bahkan berpotensi hilang. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apa yang keliru dalam proses pendidikan (calon) guru kita?

Peran Asrama

Jika kita kenang kembali pendidikan guru yang pernah ada di Indonesia, sebenarnya upaya yang dilakukan pemerintah untuk menyiapkan calon-calon guru sudah sangat baik dan proporsional. Mulai dari mekanisme penerimaan pendidikan calon guru yang disesuaikan dengan kebutuhan dan dikelola oleh negara, penyediaan tunjangan ikatan dinas, hingga yang paling utama adalah model pendidikan berasrama.

Asrama tidak hanya dipandang sempit sebagai tempat tinggal para calon guru, melainkan arena pembentukan kepribadian calon guru. Proses ini penting karena calon guru memang memiliki peranan yang berbeda dengan mahasiswa program studi lainnya. Di banyak negara, sekolah guru masih menjadi prioritas negara mengingat dalam pencerdasan sebuah bangsa, peranan guru sangatlah besar.

Penguasaan pengetahuan mengenai materi ajar, kemampuan pedagogik dan keterampilan hard skill tetap diajarkan di kelas. Sedangkan pada tata laku sopan santun, tata cara pergaulan sebagai pendidik, semua diajarkan di asrama. Dengan demikian, sosok guru dengan karakter yang dibentuk melalui pendidikan guru seperti ini, akan mampu menjadi sosok yang dapat dicontoh oleh masyarakat khususnya para siswa yang diampunya.

Pembenahan

Patut disadari sepenuhnya, bahwa guru merupakan jenis profesi yang memerlukan keahlian khusus, dengan beberapa cabang ilmu yang khusus juga. Penguasaan keilmuan hanya dipelajari oleh mereka yang dipersiapkan menjadi calon guru. Maka, alangkah bijaknya penyiapan pendidikan calon guru diambil alih penuh oleh negara dan disiapkan melalui konsep pendidikan kedinasan, sebagaiamana pendidikan Akabri dan Akpol.

Proyeksi kebutuhan guru pertahunnya sudah sangat terukur, yakni pengganti guru yang pensiun dan penambahan guru baru untuk sekolah-sekolah baru. Pengelolaan LPTK hanya diselenggarakan oleh pemerintah dengan prinsip berbasis kebutuhan akan pendidik. Artinya, pendidikan guru harus dikendalikan mutunya, jumlahnya, jenisnya, sehingga tidak akan terjadi over-supply dari lulusan LPTK.

Para calon guru dididik di kampus yang diasramakan, mengingat guru tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga harus belajar tentang sikap, perilaku, berorganisasi, tata krama sebagai guru, cara berpakaian, mengerjakan tugas mandiri dan kelompok, belajar disiplin, dan kegiatan lain yang mampu menjadikan sosok guru sebagai sosok pionir, teladan, panutan, akademisi, dan pendidikan yang handal.

LPTK juga harus dilengkapi sekolah laboratorium sebagai tempat praktik mengajar bagi para mahasiswa calon guru. Fungsi sekolah lab juga untuk uji coba sebagai inovasi keilmuan kependidikan dan keguruan yang terus dikembangkan melalui riset-riset institusional oleh para dosen maupun mahasiswa. Begitu pula setelah menjadi guru, terus dilakukan maintenance terhadap kemampuan para guru. Melalui pelatihan secara berkala, sehingga pembinaan berjalan terus-menerus.

Dengan demikian lulusan LPTK sebagai calon guru profesional, memang berbekal kemampuan akademik yang handal. Kelak mereka mampu tampil sebagai guru yang akademisi yang mendidik dengan hati, sebagai sosok panutan, sekaligus mampu  menginspirasi anak-anak didik.

Achmad Farchan, Menteri Pendidikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Semarang

4 komentar pada “Memperkuat Fungsi Asrama Calon Guru

  1. Saya rasa yang jauh lebih mendalam diperbaiki adalah kualitas personal guru yang itu tidak bisa sekadar dibangun dengan official kurikulum, namun dibangun dari kesadaran bahwa tugas seorang guru adalah membangun peserta didik. ini bagian dari dorongan untuk memajukan negara secara bersama-sama.

  2. Salam Pendidik, untuk seluruh pendidik di Indonesia. Sungguh sangat luar biasa artikel yang disampaikan oleh Anda mengenai fungsi penting asrama bagi para calon Pendidik.
    Seperti yang disampaikan oleh Anda, bahwa dalam fungsi Asrama adalah membentuk dan mempersiapkan para calon pendidik, namun saya menambahkan untuk ingin tahu, asrama seperti apa yang kiranya mempunyai fungsi sebagai pembentuk mental pendidik. Kemudian, Asrama yang ada di Unnes ini kiranya masih bisa dijadikan sebagai pembentuk mental mahasiswa calon pendidikkah ? Terimakasih atas ilmu dan pengetahuan yang yang diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X