Membingkai Disrupsi Peradaban


Membingkai Disrupsi Peradaban

Kesadaran akan menorehkan sejarah, bukanlah hal yang baru, melainkan dapat ditemui bahkan sebelum manusia mengenal huruf pertamanya. Bekas telapak tangan berwarna merah yang ditemukan di gua pra sejarah, menjadi bukti bahwa manusia mempunyai upaya untuk menorehkan eksistensi mereka ke dalam sejarah, meski tak tercetak di buku sejarah yang tersimpan rapi di perpustakaan.
Demikian pula, hari ini, torehan sejarah di jaman milenial, dikuatkan dengan upaya manusia untuk menulis. Dari tulisan ilmiah, artikel ringan, novel, bahkan sampai sekedar catatan buku harian.
Menjadi pertanyaan besar adalah, ada sebagian orang yang menulis karya fenomeal, tulisan sang maestro yang mampu mengubah wajah dunia, sebut saja karya Syech Ibn Athaillah dengan Al Hikam sebagai Magnum Opus-nya, atau The Origin of Species (1859) yang penuh kontroversi karya Charles Darwin. Buku Darwin ini, bahkan disebut sebut mengilhami Adolf Hitler dengan Nazi-nya, dengan misi untuk tetap menjaga kelestarian Ras Aria. Salah satu caranya, Hitler melakukan ekspansi wilayah dan sekaligus melakukan pemusnahan ras lain, sebagai pembuktian teori “survival of the fittest.”
Sementara manusia lain, lebih memilih untuk berkontribusi pada karya yng berpusat pada pemuasan syahwat ragawi, sebut saja Hugh Hefner, sang pendiri majalah dewasa, Playboy, yang baru saja meninggal dunia pada usia 91 tahun.
Sedangkan sebagian besar manusia, cenderung utuk memilih mengubur dalam dalam pengetahuan, ilmu, dan pengalaman berharganya hingga akhir hayatnya.
Sebagaimana tulisan novelis Dan Brown dalam Novel nya “Inferno” The darkest places in hell are reserved for those who maintain their silence at times of crisis. Sebuah ungkapan yang kurang lebih berarti tempat tergelap di neraka telah disediakan bagi mereka yang tetap diam di masa krisis. Krisis dapat berupa banyak situasi, krisis moral salah satunya.
Demikian juga sebagaimana hadist Rosulullah SAW “Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim).
Maka sebenarnya sebuah tulisan, akan selalu mendapatkan tempat tersendiri dalam era perubahan. Sebagaimana sebuah teori yang bernama “Disruption Theory” oleh Christensen Clayton, bahwa perubahan melalui inovasi (baca:melakukan cara yang berbeda untuk menjadi lebih baik), menjadi sebuah keniscayaan yang mutlak harus dilakukan.
Pertanyaan lanjutannya adalah, Apakah kini Anda menjadi bagian dari masalah atau Apakah Anda sudah menjadi bagian dari solusi, yang mampu melakukan “Disruption” menuju kondisi dan situasi yang lebih baik di masa depan?
Anda lah yang menentukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X