Membidik Ketuntasan Tri Dharma dalam Ruang Virtual


Membidik Ketuntasan Tri Dharma dalam Ruang Virtual

Penetapan masa pandemi COVID-19 mulai bulan pertengahan Maret lalu membawa perubahan dalam tatanan pelaksanaan pendidikan, termasuk pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Saya masih ingat, ketika itu awal semester Genap 2019/2020 baru saja dimulai. Saya baru sempat dua kali melakukan perkuliahan tatap muka. Semangat dan optimisme sedang amat menyala dan tersurat jelas di setiap wajah mahasiswa.

Keputusan penyelenggaraan perkuliahan daring (online) oleh pemerintah mesti direalisasikan dengan amat segera, termasuk di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Pihak kampus segera menyusun dan menetapkan berbagai kebijakan internal dengan mempertimbangkan berbagai aspek, khususnya terkait protokoler kesehatan. Tak berselang lama, rektor mengeluarkan surat keputusan bagi kami, seluruh civitas akademika. Hakikatnya, penyelenggaraan dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pengajaran (perkuliahan), penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat tidak diberhentikan. Tri Dharma tahun ini mesti tetap dituntaskan meski melalui medium virtual.

Adaptif terhadap Perubahan

Perubahan pola yang cukup mendadak menuntut seluruh komponen dalam kampus untuk bersikap adaptif. Tentu saja, hal tersebut bukan sesuatu hal yang mudah. Berbagai kendala dan hambatan ditemui di sana-sini, baik yang bersifat teknis maupun nonteknis. Dalam penyelenggaraan perkuliahan misalnya, kendala teknis dijumpai saat penyesuaian pola perkuliahan daring berbasis learning management system (LMS).

UNNES telah cukup lama mengembangkan LMS bernama Electronic Learning Aid (ELENA). LMS mandiri ini telah disosialisasikan beberapa tahun belakangan karena memang Bidang Akademik telah membuat dan menjalankan rancangan awal perkuliahan dengan sistem blended learning (mixed antara perkuliahan tatap muka dan pola daring). Walaupun sosialisasi dan implementasi telah dijalankan sebelumnya, bukan berarti mudah mengaplikasikan ELENA hingga pada tataran nyaman. Sebagian dosen masih agak gelagapan ketika harus beralih dari pola penyampaian perkuliahan secara langsung dan atau pola blended learning ke pola full online learning. Banyak penyesuaian yang harus dilakukan, termasuk bahan ajar yang mesti berubah dalam format daring pula.

Dalam pola perkuliahan daring, dosen juga dituntut untuk menguasai teknologi informasi secara mumpuni. Pada masa ini, kecakapan berliterasi digital menjadi sebuah keniscayaan; tidak bisa dihindari lagi. Selain itu, tuntutan lainnya ialah penyesuaian pada hal-hal yang bersifat nonteknis. Contohnya penyesuaian terhadap perubahan jam kerja yang fleksibel dan manajemen diri yang sinkron antara urusan pekerjaan dan urusan pribadi karena pola bekerja dari rumah (work from home) turut menghadirkan suasana kerja yang berbeda pula.

Selain dosen, kendala perkuliahan daring pun dialami para mahasiswa. Pada akhir perkuliahan Genap awal Juli lalu, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES mengadakan survei intern terhadap 210 mahasiswa  dari dua program studi mengenai permasalahan dalam perkuliahan daring yang mereka temui selama satu semester terakhir. Hasil survei menunjukkan 1) mahasiswa merasa kurang mantap bila tidak melakukan perkuliahan tatap muka, 2) mahasiswa terbebani dengan kuota internet yang cukup mahal, 3) susah sinyal, 4) berharap tugas/instruksi dosen lebih diperjelas, dan 5) susah mengatur waktu selama berkuliah dari rumah.

Hasil survei tersebut sangat penting untuk dicermati oleh seluruh komponen sebagai bahan refleksi atau evaluasi untuk persiapan perlaksanaan perkuliahan daring semester ini. Keterbatasan anggaran dan ruang gerak selama pandemi menjadikan berbagai pihak terkait perlu membuat skala prioritas untuk meminimalisasi kendala-kendala tersebut.

Pelaksanaan Tri Dharma

Bagi dosen, selain penyelenggaraan perkuliahan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat juga mesti dituntaskan dalam waktu yang kurang lebih bersamaan. Masa pandemi ini membawa perubahan dalam pola riset dan pengabdian pula. Semua menjadi serba daring. Dalam proses pengambilan data penelitian, misalnya, saya menggunakan layanan Google form. Teman sejawat dari lain disiplin ilmu, teknik dan sains misalnya, dituntut lebih kreatif dan masif dalam proses pengambilan data riset mereka, yang idealnya mesti terjun ke lapangan/laboratorium secara langsung.

Dalam proses pengabdian kepada masyarakat, karena anjuran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan pembatasan fisik maka pengabdi perlu mengganti pola pertemuan dengan mitra sasaran. Pelatihan/pendampingan dalam ruang virtual kemudian menjadi pilihan yang paling aman dan nyaman berdasarkan kesepakatan. Bisa jadi, hasilnya  memang tidak semaksimal ketika bertatap muka, tetapi minimal ada upaya untuk tidak membiarkan keadaan ini menurunkan tensi semangat mengabdi kepada masyarakat.

Saya meyakini, tumbuhnya berbagai ruang virtual tidak hanya sebuah the new normal tetapi juga the next normal. Fokus, semangat kerja, efisiensi strategi, dan bumbu integritas mesti terus dipupuk dalam mendukung kenormalan-kenormalan baru, sekaligus menjadi pijakan dalam membangun standar kepantasan kerja yang baru pula. Membimbing mahasiswa menjadi generasi muda yang produktif dan kompetitif melalui perkuliahan, terus mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kerja ilmiah dalam penelitian, dan mengimplementasikan keilmuan untuk kebermanfaataan masyarakat sasaran dalam rangka pengabdian kepada masyarakat merupakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mesti dituntaskan walaupun sedang dalam keterbatasan.

 

*Santi Pratiwi T. Utami

Dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNNES

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

X