Malu kepada Diri Sendiri


Malu kepada Diri Sendiri

Dikisahkan, ada seekor gajah bertubuh besar. Ketika datang kepadanya seseorang yang akan memberinya minum dengan selang seukuran jari kelingking, gajah itu berkata. “Bagaimana mungkin kamu bisa mencukupi minumku hanya dengan selang sekecil itu?”

Gajah menganggap tubuhnya besar dan perkasa. Pada saat yang sama, ia melihat selang demikian kecil. Perbandingan subjektif ini membuatnya terperangkap pada penilaian yang ragawi. Gajah tidak melihat bahwa selang yang kecil tersalur dengan lautan. Jangankan untuk mencukupi minum seekor gajah, air yang mengalir melalui selang kecil itu lebih dari cukup untuk memberi minum ribuan gajah.

Bayangkan, betapa malunya si gajah besar itu jika ia tahu kebodohannya. Di balik tubuhnya yang perkasa, ternyata hanya tersimpan pengetahuan yang begitu sedikitnya. Bagaimana dengan kita?

Kekuatan Introspeksi

Ada banyak sebutan yang dilekatkan umat Islam kepada bulan Ramadhan. Selain bulan penuh berkah dan bulan ampunan, sebagian umat Islam juga menyebutnya sebagai bulan introspeksi. Pada bulan inilah umat merenungkan segala hal yang telah diperbuatnya, agar diketahui baik dan buruknya.

Instrospeksi merupakan mekanisme psikologis yang unik. Seseorang berusaha menyelami dirinya dari perspektif orang lain. Mekanisme ini memungkinkan berbagai kesalahan dan keburukan yang selama ini kita nafikan, menjadi terakui keberadaannya. Dengan instrospeksi, kita menjadikan diri sendiri sebagai supervisor bagi perbuatan kita.

Mekanisme psikologis swasupervisi sangat mungkin dilakukan karena manusia memiliki beragam pandangan dalam dirinya. Meski bertubuh tunggal, ia bisa melihat sesuatu dari berbagai perspektif. Selain itu, pengetahuan manusia bersifat dinamis. Sesuatu yang tampak benar pada satu waktu, bisa tampak keliru pada waktu lain. Sesuatu yang tampak indah, bisa menjadi buruk pada waktu berbeda.

Kegiatan instrospeksi (bermuhasabah) telah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, dan para ulama. Mereka menjadikan kegiatan introspeksi sebagai sarana perbaikan akhlak, perilaku, dan keyakinan. Meskipun mereka termasuk orang yang telah dimuliakan Allah, bermuhasabah tetap mereka lakukan.

Dalam hadis riwayat Bukhori disebutkan, Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa.” Dari hadis itu kita bisa belajar, bahwa lupa dapat terjadi kepada siapa pun.

Lima Faedah

Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh seseorang dari instrospeksi. Pertama, ia akan terhindar dari kesalahan yang berulang. Bangsa Arab punya pepatah “Keledai pun tidak mau terperosok dua kali ke lubang yang sama”. Pepatah itu diubah oleh orang Indonesa menjadi “Hanya keledai yang terperosok dua kali ke lubang yang sama.”

Kesalahan yang berulang merupakan sebuah kerugian besar. Sebab, seseorang yang melakukan kesalahan yang sama secara berulang gagal belajar dari kesalahannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Beruntunglah orang yang (amalannya) lebih baik dari hari kemarin.” Sementara itu, “Orang yang amalannya lebih buruk dari hari sebelumnya adalah terlaknat.”

Kedua, instrospeksi mendorong manusia senantiasa adapatif. Adaptasi diperlukan karena realitas zaman berkembang dengan sangat cepat. Perubahan pemikiran, perkembangan teknologi, bahkan standar etika dan estetika berubah dari hari ke hari. Mengintrospeksi diri berarti terus mengoreksi kekurangan diri agar segera dilengkapi melalui proses belajar.

Ketiga, terhindari dari kesombongan atas prestasi dan kepemilikian pribadi. Keberhasilan atas usaha dunia kerap melahirkan sikap sombong. Kerap kali, sikap ini diikuti dengan sikap meremehkan orang lain. Akibatnya, ia menjadi tinggi hati.

Dengan muhasabah, perasaan demikian dapat ditekan. Sebab, muhasabah akan membimbing manusia pada autokoreksi. Dengan cara itu, ia akan mendapati bahwa prestasi yang diperolehnya terlalu kecil untuk dibanggakan. Pada sat yang sama, ia akan melihat bahwa dosa dan kesalahannya justru terlalu besar.

Keempat, mendekatkan pada keberhasilan. Dalam manajemen birokrasi dan korporasi, selfevaluation merupakan mekanisme standar yang dilakukan setelah sebuah program dilaksankan. Bukan untuk mencari kesalahan, melainkan melihat capaian program. Evaluasi diperlukan untuk melihat apakah strategi yang digunakan relevan dengan tantangan atau belum. Dengan demikian, ia bisa memperbaiki atau mengganti strategi yang lebih ampuh.

Kelima, menemukan makna yang lebih sejati atas diri dan perbuatan. Saat melakukan sesuatu, seseorang kerap fokus pada hal-hal yang indrawi. Padahal, setiap kegiatan, situasi, atau peristiwa selalu memiliki makna yang lebih dalam.

Instrospeksi memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menyelami sesuatu secara lebih mendalam. Mata lahir dipejamkan, mata hati ditajamkan agar makna di balik peristiwa tampak dan terasa. Mata yang tajam melihat sesuatu lebih dari sekedar rupa, tetapi juga makna.

Introspeksi diri yang dilakukan secara rutin akan menghasilkan perasaan kecil, rendah diri, dan penuh dosa. Manusia akan merasa bahwa ada demikian keburukan yang melekat padanya. Adapun sesuatu yang dianggapnya sebagai kebaikan, ternyata tidak dimilikinya. Jika telah sampai pada titik ini, tidak ada lagi kebanggan. Perasaan yang muncul adalah rasa malu kepada diri sendiri.

Selamat menunaikan ibadah Ramadhan, semoga menjadi pribadi bertaqwa.

Prof Dr Fathur Rokhman MHum, Rektor Universitas Negeri Semarang

3 komentar pada “Malu kepada Diri Sendiri

  1. Subhanallah. Pencerahan yang luar biasa di bulan yang penuh berkah ini.
    Saya jadi ingat KH A. Mustofa Bisri yang mengingatkan kita melalui puisinya untuk terus bermuhasabah .

    “Kalau Anda dipuji padahal Anda tak sepantasnya dipuji, mengapa Anda merasa senang?

    Dan kalau Anda dicela padahal Anda tak sepantasnya dicela, mengapa Anda harus marah?”

    “Dalam hidup ini gunakanlah dua cermin:
    Satu untuk melihat kekuranganmu,
    Dan satu lagi untuk melihat kelebihan orang lain.”

    “Jangan banyak-banyak mencari Banyak,
    Tapi banyak-banyaklah mencari Berkah.
    Banyak mudah didapat dengan hanya meminta,
    Tetapi Berkah hanya bisa didapat dengan memberi.

    Semoga saya pribadi dan sahabat-sahabat saya sebagai insan UNNES terhindari dari kesombongan atas prestasi dan kepemilikian pribadi, sebagaimana pesan Bapak Rektor.

    Kita perlu jaga-jaga jangan sampai tergelincir ke dalam api yang kekal karena kesombongan dan keangkuhan menyertai kita tanpa kita sadari.

    Terima kasih Bapak Rektor.
    Semoga Allah memberkahi UNNES dan para pemimpinnya. Amiin.

  2. Marilah kita ber…muhasabah.shg tahu kekurgn kita.tksh prof…maaf.masukan prof selangnya jgn tersambung ke laut…kedanau saja biar gajahnya tdk mati….slm

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X