Jurnal Seni Kelas Dunia


Jurnal Seni Kelas Dunia

DUA tahun lalu,  pemimpin umum jurnal Makara Universitas Indonesia Dr Yoki Yulizar MSc memberi saran  untuk meng-online-kan  semua artikel jurnal kami. Bila perlu, terbitan sepuluh terakhir.

Dia menyayangkan blog Harmonia Online yang  kala itu sudah mencapai 40.000 pengunjung tidak berada dalam domain website universitas (unnes.ac.id) sehingga tidak  bisa menopang capaian dalam pemeringkatan ala Webometrics. Dia juga membuka “rahasia”  bahwa  salah satu  yang telah meningkatkan Universitas Indonesia dalam pemeringkatan itu adalah penerbitan jurnal yang dengan mudah bisa diakses dan diunduh.

Gayung pun bersambut. Kini telah muncul e-journal Unnes  yang ikonnya bisa diklik di pojok kanan atas unnes.ac.id. Itulah kenapa, blog Jurnal Online yang kami kelola pun segera ditutup lantaran sudah ada media yang lebih canggih tempat kami bernaung.

Open journal sytem (OJS) yang digunakan  pun sudah dianggap standar untuk sebuah pengelolaan jurnal-jurnal, sebagaimana banyak digunakan jurnal-jurnal  internasional.  Kita perlu mengapresiasi Tim Pengembang Jurnal Unnes di bawah koordinasi  Dr Sutikno, yang begitu agresif, kreatif, dan responsif  menyikapi  perkembangan dunia penerbitan jurnal yang begitu cepat sehingga banyak program dan kegiatan yang cukup menunjang pengembangan jurnal-jurnal di Unnes.

Jurnal Seni

Masih  menjadi impian  saya, suatu saat Unnes memiliki jurnal seni yang bertaraf internasional yang diopeni universitas. Jurnal seni  yang saya  bayangkan adalah yang menyajikan seni-seni tradisi yang tersebar di negeri ini.  Gagasan  ini muncul setelah mengamaati respons positif pengguna jurnal di luar negeri saat jurnal online kami  melalui blog masih ditayangkan.

Salah satu perpustakaan online yang selalu dengan cepat merespons dan mengindeks serta ‘menjual’  terbitan kami adalah National Library of Australia. Bebapa bulan lalu staf kedutaan AS juga mendatangi  redaksi kami untuk menyatakan berlangganan jurnal Harmonia yang notabene menyajikan artikel-artikel seni (mungkin termasuk jurnal-jurnal lain di Unnes).  Ini  hanya suatu bukti,  hal yang berbau seni sangat diminati di luar negeri.

Pendukung Konservasi

Sudah lama warga manca  mengagumi dan mempelajari  seni dan budaya kita. Mahasiswa luar negeri yang belajar di Unnes juga begitu antusias  berlatih menampilkan seni tradisi kita. Media-media yang mengulas dan menyajikan seni tradisi ini pun cukup banyak.

Karena itu, dengan  menerbitkan jurnal internasional –ber bahasa internasional tentunya–  yang memaparkan seni dan budaya kita dan  diopeni universitas  bukanlah hal yang berlebian. Apalagi, kita sudah mengukuhkan diri sebagai universitas konservasi. Apa salahnya penggalakan  konservasi budaya juga menjadi bagian tak terpisahkan dari program universitas.  Mungkin berlebihan jika harus menyebutnya jurnal internasional, karena tidak mudah untuk mencapai predikat internasional, apalagi jika jurnal itu baru diterbitkan. Namun paling tidak, potensi SDM yang kita miliki seperti ahli bahasa, ahli budaya, pengelola jurnal berpengalaman, penulis jurnal international yang berpengalaman, sarana prasarana, serta jaringan /hubungan  internasional yang telah kita miliki, bisa menjadi modal untuk memulainya.

Media Promosi

Media ilmiah berbahasa internasional, yang tersebar secara internasional dan memiliki dewan editor  yang tersebar di seluruh penjuru dunia, sesungguhnya merupakan alat promosi yang sangat efektif.

Walaupun belum mendapat predikat jurnal terakreditasi nantinya, menerbitkan dan menayangkan artikel-artikel seni  budaya di dunia maya merupakan sesuatu yang tidak merugikan. Sebaliknya, pemerhati dan pengkaji seni  dunia mungkin akan banyak yang  melirik universitas kita. Apalagi,  jika kita akhirnya memiliki program studi khusus yang menangani konservasi budaya seperti di negara-negara Eropa dan Amerika yang telah lama mendirikan lembaga-lembaga konservasi seperti konservatori musik. Lembaga-lembaga  tersebut  ada yang menjadi bagian dari universitas, ada juga yang berdiri sendiri. Banyak ahli  musik Barat kita yang berasal dari lulusan lembaga-lembaga tersebut yang tersebar di seluruh Indonesia.

Harus kita akui, banyak ahli seni tradisi  kita orang asing. Mereka ada  yang menjadi dosen tamu   universitas di Indonesia dan luar negeri  yang mengajarkan seni trandisi kita. Sungguh ironi. Jika kita searching di dunia maya untuk mencari artikel-artikel seni tradisi, misalnya gamelan, akan banyak muncul tulisan-tulisan ilmiah  yang ditulis oleh orang-orang asing.  Jadi,  kita jangan takut tidak banyak  penulis artikel, karena penulisnya  bisa saja  lebih banyak berasal dari luar negeri, karena penulis dari negeri ini justru banyak yang tidak mengerti seni tradisi sendiri.

–Suharto, Ketua Redaksi Jurnal Harmonia Jurusan  Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) FBS Unnes

14 komentar pada “Jurnal Seni Kelas Dunia

  1. artikel yang sungguh memotivasi pak… semoga tidak hanya saya, tim pengembang jurnal, serta pengelola jurnal di universitas negeri semarang yang termotivasi untuk memperbaiki pengelolaan jurnal di unnes, tetapi juga para mahasiswa dapat termotivasi untuk mendukung program e-jurnal.

    harapan UNNES untuk memiliki jurnal kelas dunia telah dimulai dengan terakreditasinya 2 jurnal yaitu JPFI dan PARAMITA. semoga hal ini juga dapat menjadi pemacu semangat bagi pengelola jurnal yang lain untuk terus meningkatkan kualitas menuju JURNAL TERAKREDITASI !

    1. Maaf Mba Siva baru direspon komentarnya. Terimakasih MB Aiv Telah banyak membantu membenahi Jurnal Harmonia hingga kini (2015) telah terakreditasi kembali.

  2. Orang gila seperti p Harto tidak perlu disembuhkan justru harus dilestarikan…untuk membawa Harmonia ke jenjang jurnal seni yang terakreditasi kembali…

  3. “Pikiran-pikiran gila” perlu dimunculkan untuk keinginan-keinginan yang dianggap “gila”. Namun jika tidak ada pikiran yang “gila”, juga tidak akan muncul gagasan-gagasan yang “gila”. “Kegilaan” untuk menjadikan jurnal seni yang ada di Unnes perlu didukung, dan hendaknya Unnes juga mau “ngopeni”, karena dapat meningkatkan citra Unnes sebagai kampus konservasi (budaya) yang bertaraf internasional.

  4. Saluuuuuuuuut n profisiat buat Pak Harto yang tak idolakan menjadi Sekretaris di Jurusanku PSDTM sayangnya…………..sehingga saya menjadi agak gelo, karena kemungkinan itu sangat kecil.
    . ide cemerlang p Harto, aq mendukung sepenuhnya dan saya juga sanggup sebagai pembantu P harto menjadi orang gila, biar jurnal kita Harmonia kembali menjadi jurnal seni yang terakreditasi seperti yang pernah kita raih beberapa tahun yang lalu, bahkan Harmonia saat itu juga telah membantu menjadi pelengkap persyaratan pengajuan Para Guru besar baik Para Calon Guru Besar di lingkungan Unnes maupun di luar lingkungan Unnes saat itu. kesadaran MERAWAT yang sudah ada itulah yang kadang kita kesampingkan, akibatnya Jurnal Harmonia kena pinalti tidak terakreditasi lagi, namun saya yakin ditahun mendatang pastilah predikat Jurnal seni terakreditasi dapat kita raih kembali P Harto. Gagasan Jurnal Seni Kelas Dunia memang sangat brillian, karena itu berarti sesuai dengan gagasan Bapak Rektor untuk meng Go Internasionalkan Unnes, menjadi sangat sinergis. hasilnya pastilah akan mengangkat dan menunjukkan karakter warga Unnes yang memang sudahlayak ke sana.
    Pak Harto, gagasan panjenengan seperti gayung bersambut, pada tanggal 9 sampai 11 kami para dosen Unnes ( Prof. Fatrhur, Prof Maman, Prof. Tjetjep, Dr. Iswidayati, Dr. Hartono, saya Dr. Wahyu, syahrul. M.Hum, Wadiyo. M.Si, Malarsih. M.Sn, Purwanto. M.Pd serta Eko. M.Sn beramai-ramai berbicara tentang Warisan Budaya Nusantara di Sabah Malaysia. Hasil dan sambuatannya luar biasa dapat diibaratkan, kalau dalam pertandingan Unnes mendominasi lapangan, dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti: Brunai, Singapore, Philipina dan tuan rumah Malaysia, seperti dalam SEA GAME,………. maka tahun depan Unnes didaulat menjadi Tuan Rumah Penyelenggara Seminar Internasional Warisan Budaya Nusantara putaran ke II (Luar Biasa)
    ada ratusan lebih artikel seni dalam seminar Internasional yang masuk, jika di,jumlahkan menjadi 1552 halaman apabila naskah diprosidingkan, tentu saya tidak berlebihan apabila mengangkat topi buat panitia penyelenggara, betapa tidak? selama yang namanya seminar seni, di PT Seni di Indonesia, apabila kita diundang untuk mengikuti, pendaftaran tidak lebih dari angka 200 ribu rupiah beaya mendaftar seminar,
    bisa saya beritahukan berapa uang pendaftaran seminar di Malaysia? hampir 700 ribu rupiah (3 kali lipat bukan?), meski mahal tetapi antusias peserta ternyata cukup menggembirakan, Bahkan kami peserta tidak sempat jalan-jalan menikmati keindahan negeri orang, karena padatnya jadwal presentasi acara seminar, membuat pada malam harinya sudah merasa capek.
    kami informasikan juga bahwa dimalam penyambutan dengan acara ramah tamah dan makan malam dengan tuan rumah yang juga dihadiri ( Datuk), peserta disuguhi hidangan dan atraksi seni (tari, musik, baca puisi, ditampilkan oleh para mahasiswa seni pengajian Universitas Malaysia Sabah, tidak kalah akalnya, Dr. Wahyu Lestari peserta dari Unnes yang sudah berumur 51 tahun kok ya rekoreko berani tampil menarikan tari klasik Gaya Yogyakarta meski tampil seadanya dan ternyata performance itulah yang menjadikan saya dikenal oleh para peserta, selain karena pagi harinya saya mempresentasikan Topik Ruwatan, sekelumit isi presentasi saya yang menjelaskan bahwa orang-orang dijaman modern ini makananya aspal, pasir, beton bahkan kayu glondongan dari ilegallogingpun menjadi menunya….yang disambut sorak para peserta seminar… orang-orang itulah yang pertama kali harus DIRUWAT, ternyata kelihatannya menarik para peserta seminar.
    Informasi sekelumit mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi semangat dorong para dosen menyiapkan karyanya menghadapi Seminar Internasional tahun Depan, yang akan diselenggarakan di Unnes.
    di Acara Seminar tahun depan, saya berharap panitia dapat jauh-jauh memohon kepada Bapak Rektor untuk menjadi Pembicara,
    kita semua tau bahwa gagasan, Ide beliau tentang Budaya Jawa luar biasa, dan dapat menjadi anutan dalam membentuk para mahasiswa yang BERKARATER.
    Matur Suwun Bapak Rektor (Prof Dr.H Sudijono sastroatmodjo, M.Si), saya bangga dan senang Panjenengan selalu menampilkan bidang kami disetiap event (Tari, Karawitan dan Musik).
    Terimakasih.

  5. saya sangat setuju dengan usul Bapak. jurusan Bahasa dan Sastra Jawa juga mempunyai dosen dosen, mahasiswa, mahasiswi hebat dan cerdas. tidak hanya itu, budaya jawa juga sangat menarik dan beraneka ragam. salam konservasi budaya. PBSJ !

  6. Saya sangat setuju dengan usul Bapak. jurusan Bahasa dan Sastra Jawa juga mempunyai dosen dosen, mahasiswa, mahasiswi hebat dan cerdas. tidak hanya itu, budaya jawa juga sangat menarik dan beraneka ragam. salam konservasi budaya. PBSJ angkatan 2009!

  7. Ini artikel yang bagus, memang jurnal seni masih sangat sulit di Indonesia. Jangankan tulisannya, media penerbiatannya pun sangat jarang. Saya yang mahasiswa seni juga merasakan hal itu.

    Oh ya apa ada persyaratan untuk bisa menerbitkan jurnal di Harmonia?
    Karena saya tertarik menulis jurnal disana. Terimakasih atas jawabannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

X