Hari Pahlawan dalam Perseptif Komunikasi


Hari Pahlawan dalam Perseptif Komunikasi

SETIAP tahun masyarakat Indonesia memperingati Hari Pahlawan pada 10 November. Tujuan memperingati Hari Pahlawan adalah untuk mengingatkan masyarakat Indonesia agar tidak lupa pengorbanan para pahlawan dalam upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Tentu ini menjadi penting dan bermakna pada setiap individu masyarakat Indonesia, ketika dimaknai bahwa hari pahlawan sebagai upaya mengingat dan melanjutkan akan jiwa pengorbanan para pahlawan terdahulu.

Secara fisik, civitas academica di perguruan tinggi memperingatinya dengan khidmat melalui upacara. Kegiatan itu dilakukan dengan mengingat kembali ribuan jiwa melayang yang berjuang untuk bisa merdeka. Persoalannya seberapa jauh kita dapat memaknai hari pahlawan ini ketika diterapkan dengan keseharian kita dalam menjalankan tugas di Universitas Negeri semarang yang sedang getol mempopulerkan visi menjadi universitas berwawasan konservasi dan bertaraf internasional?

Selaras dengan semangat visi dan misi Universitas Negeri Semarang, agar menjiwai nilai-nilai yang terkandung dalam jiwa kepahlawanan tersirat dalam nilai-nilai konservasi di antaranya  jujur dan berkarakter dengan memelihara nilai-nilai keadilan yang penuh semangat daya juang untuk merealisasikannya.

Banyak hal yang mesti dipahami dan disadari oleh setiap individu, sehingga mampu melaksanakan dan menyadarkan akan pentingnya jiwa kepahlawanan dalam melaksanakan tugas, dalam perspektif komunikasi dikenal komunikasi intrapribadi yaitu komunikasi dengan dirinya sendiri meliputi berfikir, melakukan penalaran, menganalisis, merenung terhadap dirinya (Devito:1997).

Hal ini berkaitan dengan seberapa jauh memahami nilai-nilai kepahlawanan itu yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan keseharian sehingga menjalankan tugasnya baik sebagai dosen maupun tendik  dapat menerapkan nilai-nilai kepahlawanan secara baik dan benar.

Perspektif Komunikasi

Memaknai nilai kepahlawanan pada era generasi saat ini,  penulis berpendapat ada empat persepsi komunikasi yang harus dipahami dan dijiwai.

Pertama, berpikir terhadap seberapa jauh kemampuan mengintrospeksi diri dalam penguasaan dan pemahaman menjalankan tugas, sehingga sebagai individu mampu menjadikan dirinya berkualitas berpikir kritis terhadap kemajuan yang diharapkan, dengan berpikir kritis terhadap diri sendiri akan mampu membimbing, mengarahkan dan meluruskan secara keilmuan masing masing yang berdampak pada bagaimana proses layanan yang baik dengan bercermin pada dirinya yang dilakukan dalam keseharian.

Kedua, melakukan penalaran. Seberapa jauh kemampuan mengintrospeksi diri dalam melakukan penalaran terhadap tugas dan kewajiban dalam menjalankan upaya menunjang profesionalisme pekerjaan, sehingga  akan memberikan layanan yang optimal yang dijiwai oleh rasa tanggungjawab pada diri setiap individu yang akan melahirkan nilai-nilai positif untuk membawa kecerdasan diri dalam melaksanakan tugasnya.

Ketiga, menganalisis. Seberapa jauh kemampuan menginstrospeksi diri dalam menganalisis sebuah fenomena  yang dihadapi dalam lingkungan kerja, karena akan mampu mempengaruhi nilai daya juang seseorang terhadap etos kerja. Kemampuan menganalisis akan didukung sejauh mana individu mampu mengumpulkan, mengidentifikasi, mengolah dan menyimpulkan keadaan lingkungan kerja untuk dapat mewujudkannya.

Keempat, merenung. Seberapa jauh kemampuan mengintrospeksi diri dalam merenungkan kembali terhadap apa yang dikerjakan baik atau tidak baik, salah atau benar, tepat atau tidak tepat, adil atau tidak adil dalam menjalankan tugas. Kualitas layanan dalam menjalankan tugas didorong oleh semangat diri sebagai hasil dari pengejewantahan cerminan individu dari hasil renungan terhadap situasi yang mempengaruhinya.

Dari perspektif tersebut tampak bahwa nilai daya juang individu dalam upaya mengingat dan mengenang para pahlawan yang telah berjasa pada negara dan bangsa selain secara fisik memperingatinya setiap tahun, tentu ada hal penting dibalik upacara adalah  melaksanakan tugas harus penuh tanggungjawab sebagai hasil dari introspeksi evaluasi kemampuan terhadap dirinya, memaknai nilai-nilai kepahlawanan yang diterapkan pada tugas akan tergantung bagaimana kualitas individu.

Ade Rustiana, dosen komunikasi pada Fakultas Ekonomi, Ketua Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X