E-Audit Berbasis Manajemen Risiko : Sebuah Kebutuhan UNNES


E-Audit Berbasis Manajemen Risiko : Sebuah Kebutuhan UNNES

Seiring dengan program efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran oleh Pemerintah, pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara kian hari semakin dituntut oleh publik serta auditor untuk lebih transparan, berintegritas dan profesional.

Pencegahan penyimpangan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara harus dimulai dengan membangun sistem pengendalian sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008  melalui lima unsur, yaitu (1) lingkungan pengendalian, (2) penilaian resiko, (3) aktivitas pengendalian, (4) informasi dan komunikasi serta (5) pemantauan. Dengan adanya sistem pengendalian akan memberikan keyakinan yang memadai atas pelaksanaan kegiatan, agar sesuatu yang tidak benar harus dicegah sejak awal supaya tidak terjadi penyimpangan.

Untuk mendukung 5 (lima) unsur di atas diperlukan alat bantu yang memudahkan auditor untuk mengoptimalkan kinerjanya. Tak terkecuali Satuan pengawas Internal (SPI) UNNES. SPI UNNES memerlukan alat bantu teknologi informasi berupa sistem informasi yang membantu optimalisasi pengelolaan audit internal. Urgensi menjadi sangat tinggi mengingat tantangan penanganan hasil temuan beserta tindak lanjut pemeriksaan auditor eksternal beserta rencana aksi pencegahan di masa depan semakin kompleks.

Teknologi informasi yang diterapkan dalam proses auditing atau lebih dikenal sebagai e-audit sebenarnya tidak berbeda dengan pengertian audit secara umum. Auditing adalah pengumpulan serta pengevaluasian bukti-bukti atas informasi untuk menentukan serta melaporkan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Auditing harus dilaksanakan oleh seseorang yang kompeten dan independen.

Dengan penggunaan e-audit proses pengumpulan bukti serta evaluasi, dokumen buktinya dilakukan dengan bantuan komputer. Bukti yang dikumpulkan untuk dievaluasi juga tidak lagi berupa hard copy melainkan berbentuk file data komputer. Penerapan e-audit diharapkan dapat mewujudkan proses auditing dengan prinsip do more with less. Teknik/perangkat ini memungkinkan auditor untuk mengotomasikan pekerjaan rutin tertentu yang cenderung menghabiskan waktu tanpa nilai tambah yang signifikan.

Konsep e-audit saat ini sedang menjadi wacana oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) untuk diterapkan di semua lembaga negara dan institusi pemerintah. Wacana penerapan e-audit ini dilatarbelakangi dengan peningkatan opini audit atas Kementerian/Lembaga (K/L), dimana saat ini sudah banyak K/L yang mendapat opini WTP (Wajar Tanpa Perkecualian). Dengan peningkatan opini atas Laporan Keuangan (L/K) tersebut maka yang menjadi tuntutan saat ini adalah penyusunan L/K yang lebih cepat, efisien, sehingga  proses pemeriksaan atas L/K juga menjadi lebih cepat dengan cakupan yang lebih luas dan proses lebih transparan.

Beberapa kelebihan dari penerapan e-audit antara lain yaitu: (1) Pelaksanaan pengumpulan data menjadi lebih cepat, karena pelaksanaan pengumpulan data dapat dilakukan sewaktu-waktu dan bersifat real time online. (2) Proses pemeriksaan laporan keuangan dilakukan lebih cepat karena berbasis data online. (3) Cakupan pemeriksaan yang lebih luas dan mendalam. (4)  Paperless dan retensi dokumen menjadi lebih lama dan andal. Namun, implementasi penerapan e-audit perlu mengantisipasi kendala yang mungkin terjadi berupa risiko keamanan data, sumberdaya manusia pendukungnya serta pembiayaannya.

Wacana penggunaan e-audit di UNNES menjadi penting untuk dipikirkan karena sesuai amanat Peraturan Rektor UNNES tanggal 29 November 2016 No.37 tentang Pedoman Manajemen Risiko di UNNES, penerapan audit berbasis risiko (Risk Based Audit) mutlak dilaksanakan oleh SPI UNNES. Implementasi audit berbasis risiko akan menjadi lebih mudah dilaksanakan dengan menggunakan e-audit.

Terwujudnya e-audit di masa mendatang memerlukan sponsorship atau leadership. Manajemen perubahan dilakukan untuk memastikan pihak internal (pegawai dan Satuan Pengawas Internal) maupun eksternal yaitu unit kerja (auditee) mendukung dan berpartisipasi penuh dalam penerapan e-audit. Manajemen dapat memakai pendekatan : Awareness/kesadaran, Desire/keinginan, Knowledge/ pengetahuan, Ability/keterampilan, dan Reinforcement/penguatan untuk mewujudkan salah satu aksi reformasi birokrasi ini. Model pendekatan diawali dengan menciptakan kesadaran terlebih dahulu kepada satuan kerja dan para pegawai UNNES maupun Unit kerja sebagai auditee bahwa penerapan e-audit ini penting bagi mereka, UNNES, dan negara. Jika sudah mulai ada kesadaran, akan muncul keinginan mendukung dan berpartisipasi di dalamnya. Jika sudah ada keinginan, mereka perlu pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar bisa mendukung dan berpartisipasi penuh di dalam penerapan e-audit ini. Jika sudah begitu, yang dilakukan kemudian adalah penguatan.

E-audit saya pandang sebagai bentuk aksi manajemen perubahan di UNNES untuk melaksanakan reformasi birokrasi bidang pengendalian internal. Sebuah langkah maju untuk mengelola keuangan negara secara lebih profesional dan beritegritas, karena keuangan negara bukanlah keuangan pribadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X