Bimbingan Skripsi (Tidak) Online

Senin, 20 Februari 2012

Oleh Suharto

DIMULAI dari mahasiswa angkatan 2008, bimbingan skripsi di Universitas Negeri Semarang akan dilakukan secara online. Isu ini sudah santer beredar di lingkungan kampus satu tahun terakhir. Kini, kegiatan itu sudah dimulai dengan kemunculan ikon Siskripsi di situs Unnes, sebuah sistem yang akan mengelola proses bimbingan skripsi mulai dari pendaftaran tema sampai validasi nilai ujian, bahkan tugas tambahan mahasiswa untuk mengunggah skripsi yang sudah selesai dan disahkan.

Jika diamati alur bimbingan yang ada di Siskripsi, tampak proses ini masih bersifat administratif. Proses sesudah mendaftar tema dan diverifikasi oleh tim di jurusan adalah hanya mengadministrasikan dan merekam kegiatan bimbingan antara mahasiswa dan pembimbing dengan mengisi lembar bimbingan secara online sampai akhir bimbingan. Kegiatan bimbingan yang lain tampak masih dilakukan secara konvensional.

Tidak ada yang lebih rumit seperti yang ‘ditakuti’  sebagian kecil mahasiswa maupun dosen. Sedikit ketakutan, karena jangan-jangan sistem ini akan menambah beban mengajar dosen yang sebagian jurusan sudah luar biasa padatnya. Alih-alih dapat melancarkan bimbingan, justru sistem ini mungkin dapat menghambat yang disebabkan ketidaksiapan di salah satu pihak.Yang mungkin ditakuti mahasiswa adalah keterbatasan sarana untuk mengakses internet agar bisa ‘kencan’ dengan dosen pembimbing sebelum bimbingan. Jadi, mungkin sistem ini masih dikatakan semi online kalau  tidak disebut masih offline. Namun, dengan hanya  mengisi jurnal bimbingan  di sistem ini akan menjadikan  kegiatan kontrol yang baik bagi institusi.

Peningkatan Layanan

Mungkin ini masih debatable jika fasilitas menu dalam sistem ini ditambah dengan  kewajiban bagi mahasiswa pada tahap-tahap tertentu mengunggah file draf skipsinya. Dengan mengeklik file yang sudah diunggah, dosen pembimbing yang mungkin masih bertugas di luar kota atau berada di luar kampus dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk membuka draf skiripsi mahasiswa.

Dengan demikian, tidak ada alasan bimbingan terhambat karena dosen sibuk tugas-tugas di luar kampus. Keuntungan sistem ini tentu akan mengurangi hambatan yang disebutkan tadi sekaligus membantu program paperless yang sedang digalakkan Unnes.  Bisa dihitung berapa kertas yang harus dibuang percuma oleh seorang mahasiswa selama bimbingan skripsi yang minimal delapan kali bimbingan pada dosen pembimbing?

Dibuang percuma, karena sangat tidak mungkin ada mahasiswa yang mau mengoleksi coretan-coretan dosen pembimbingnya setelah lulus. Yang mungkin memberatkan bagi sebagian dosen adalah mengubah sebagian pola bimbingan  dari offline menjadi online. Mungkin juga akan menambah beban tugas dosen. Oleh karena itu, tidak semua bimbingan mahasiswa harus mengunggah file dan sebaliknya dosen mengunduh dan mengunggah file itu kembali sesudah dikoreksi dan diberi catatan. Tambahan pelayanan yang online ini masih debatable juga karena masih ada sebagian pendapat yang takut hal ini akan menjadi arena plagiarisme jika draf-draf skripsi ini di-online-kan.

Walaupun alasan  ini bisa diterima, kekhawatiran ini berlebihan karena sistemnya mungkin bisa diatur agar hanya bisa dilihat dua arah, antara dosen pembimbing dan mahasiswanya. Di samping itu, bukankah ini justru menghindari plagiarisme? Mahasiswa pasti akan ketakutan jika skripsinya ketahuan hasil plagiarisme  yang karena  bimbingannya secara online.

Memudahkan Mahasiswa

Jika ini bisa terlaksana, tentu Unnes perlu mempertimbangkan dengan meningkatkan jumlah fasilitas di bidang jaringan IT yang memadai agar mahasiswa mudah mengakses internet, bila perlu gratis. Fasilitas ini sudah dilakukan oleh bebarapa perguruan tinggi terkemuka lain yaitu dengan memberikan fasilitas  free access  yang jumlahnya cukup  memadai, misalnya gedung/ruang self  access center, di mana mahasiswa dapat mengakses internet hanya dengan me-login-nya. Tentu fasilitas ini sangat didambakan mahasiswa  baik untuk bimbingan skripsi, mencari  literatur, dan mengerjakan tugas-tugas kuliah  dosen yang sudah menggunakan e-learning seperti  Elena yang sudah dimiliki Unnes.

Adalah harapan setiap mahasiswa jika ada dosen dapat membantu memudahkan mendapatkan literatur yang disarankannya, misalnya dengan  menge-link-kan situs-situs yang disarankan untuk dibaca. Atau, meng-share file yang telah dimiliki dosen yang sudah disimpan di dunia maya atau pihak ketiga seperti Ziddu.com, Box.net, atau  yang lainnya.  Tentu jika,  paling tidak, format bimbingan pada Siskripsi  mirip e-learning Elena yang berbasis Moodle  di mana di setiap topik ada fasilitas mengunggah dan menge-link situs-situs yang disarankan dosen, termasuk alamat artikel-artikel hasil penelitian di situs jurnal internasional. Jika bisa demikian,  ini suatu fasilitas yang akan memudahkan mahasiswa.

Gagasan  ini bisa menjadi sesuatu yang mungkin cukup baik yang mungkin berat untuk diwujudkan. Mungkin juga sudah dipikirkan oleh pihak-pihak yang berkompeten Unnes. Atau, mungkin juga ini sesuatu yang merepotkan yang sulit dijalankan di samping “berbiaya mahal”. Namun, saya masih yakin suatu saat kita akan dituntut ke arah sana. Bahkan, bisa lebih dari apa yang sudah  saya bayangkan mengingat pesatnya perkembangan Unnes dan SDM di BPTIK yang sangat kompeten.

 

–Suharto, dosen Jurusan Seni Drama, Tari dan Musik Universitas Negeri Semarang

Diunggah oleh: Sucipto Hadi Purnomo

15 Komentar untuk “Bimbingan Skripsi (Tidak) Online”

  1. Wahyuli Ambar

    Rabu, 22 Februari 2012 | 09:47

    Semuanya ada sisi baik dan buruknya,, jika sudah di SWOT dengan maksimal apapun kebijakannya bisa diterima oleh mahasiswa dan seluruh akademisi :)..

  2. erisukolies

    Rabu, 22 Februari 2012 | 18:44

    berat tapi do-able… toh kampus2x lain sudah ada yang bisa. pasti UNNES Bisa.!!!
    apalagi sudah punya IT Center sendiri (PTN jarang punya website yang bagus dan up to date selalu seperti UNNES, apalagi punya dedicated IT Center sendiri).
    tapi sekali lagi, banyak faktor terkait disini, kesiapan dosen, mahasiswa, maupun sistemnya sendiri. (karena ini online/daring.. maka kesiapan akses internet baik Local intranet maupun koneksi luar haruslah mendukung). maka banyak yang harus dibenahi… terutama tentang akses internet dilingkungan kampus. (cek ruang dosen BSA FBS.. jaringan Internet LAN nya mati tidak pernah dibenahi lalu WiFinya putus sambung, padahal disitu ada 2 staff dari Jepang.. malu maluin menurut saya)

  3. ALI

    Kamis, 1 Maret 2012 | 16:19

    Ada sebagian dosen UNNES yang belum bisa memaksimalkan internet karena alasan tertentu ini tugas besar UNNES untuk menyelesaikannya,… dalam bimbingan tidak ada batasan waktu bagi dosen untuk mengembalikan draff skripsi kepada mahasiswa jadi tidak ada pengaruhnya dengan cepat atau tidaknya bimbingan on-line atau off-line, yang belum on-line saja ada penjelasan dosen yang kadang tidak dimegerti mahasiswa apalagi dengan on-line ada penjelasan yang bisa di sampaikan dengan on-line karena sifatnya sederhana, tapi banyak hal yang harus di sampaikan langsung terutama masalah dilapangan yang perlu saran dari ahli(dosbing). tidak semua on-line itu KEREN trimakasih.

  4. Aryo Sunaryo

    Kamis, 1 Maret 2012 | 21:22

    kalau saya, terus terang lebih suka memeriksa naskah di kertas. mata pedes melihat monitor terlalu lama. kelemahan lainnya, dgn scrolling sulit “melihat” secara total, kaitan bagian satu dgn lainnya sehingga susah dilacak dgn cepat. memangnya setiap saat dosen harus selalu membuka notebook/ ON-LINE. siapa yg memfasilitasi? memasukkan saran/kritik/komentar dlm siskripsi saja sudah ribet, tidak efisien,hayo….! belum lagi ada peluang utk “menyalah gunakan” wewenang pengoreksian naskah/bimbingan….

  5. PBJ

    Jumat, 2 Maret 2012 | 10:33

    maksudnya online disini itu menurut saya adalah, mahasiswa mengirimkan draft online via email, maupun sarana upload lokal unnes. Dosen terkait lalu mengunduh dan membaca (ga harus dibaca pakek cara scroll2x di komputer kan, modal dikit lah ngeprint bagian yang penting, karena saya yakin kalau dikasi hardcopy 100 lembar draft skripsi pun ga akan dibaca semua). jadi online disini bukan berarti pengganti tatap muka 100%. tetapi sebagai sarana bantu konsultasi dalam jarak yang jauh.
    jadi menurut saya tolong jangan salah artikan bimbingan online menjadi bimbingan skripsi yang seperti chatting via YM, balas2xan email, retweet status tweeter, reply status facebook yang harus siap siaga Internet online 24jam.
    bimbingan skripsi online hanya sebagai sarana berhubungan antara dosen dan mahasiswa dalam kemudahan mengirimkan draft. point paling penting tetap adalah bimbingan langsung face to face (tentunya setelah dosen mengunduh dan membaca draft mahasiswanya).

  6. Boy

    Jumat, 2 Maret 2012 | 18:13

    Saya setuju dengan PBJ,

  7. kangpatmo

    Jumat, 2 Maret 2012 | 21:52

    bagi bapak-bapak atau ibu-ibu dosen yang suka membimbing skripsi secara online (online minded), sekarang pun bisa melakukannya melalui e-mail sendiri-sendiri (kontak mahasiswa LALU suruh nyalakan komputer online atau ke warnet, itu pun kalau tidak sedang mati listrik LALU upload materinya LALU si mahasiswa kontak sang dosen bahwa materi bimbingan sudah dikirim LALU sang dosen nyalakan laptop online (kalau punya) LALU buka e-mail (kalau tidak sedang lemot) LALU download materi bimbingan LALU baca-baca dan koreksi langsung pada monitor, atau yang “eman” dengan indera mata bisa print-out dulu seperti saran bapak/ ibu PBJ (kalau printer tidak sedang ngadat) LALU sang dosen mekoreksi LALU hasil koreksian dikirim kembali LALU si mahasiswa buka komputer online lagi LALU download LALU diprint-out LALU si mahasiswa membacanya LALU….

    Silakan… monggo…

    Tetapi tolong jangan “paksakan” hal itu untuk semua (karena itu hanya teknik/ strategi saja), dihargai pula pembimbing yang lebih nyaman dengan model pembimbingan dengan membaca hardcopy (termasuk saya), yang mungkin oleh Bapak Suhartono atau Bapak/Ibu PBJ dianggap jadul (kuno).

    Saya termasuk salah satu dosen yang meyakini bahwa kalau pun ada hambatan (kelambatan) pembimbingan skripsi, itu bukan karena pembimgan yang TIDAK online. Saya juga termasuk salah satu dosen yang membaca SEMUA lembar-demi lembar materi bimbingan (jangankan 100 lembar, 1000 lembar pun akan saya baca semua), tidak seperti yang Bapak/Ibu PBJ (nuwun sewu).

    Matur nuwun….

  8. Boy

    Sabtu, 3 Maret 2012 | 19:13

    Pak Naryo dan Pak Patmo betul bahwa membaca hardcopy dan bertatap muka dengan mahasiswa itu harus yang utama. Oleh karena, sistem sekarang yang disebut SiSkripsi sebaiknya jangan disebut-sebut warga kampus sebagai “bimbingan skripsi online”. Jika pun menggunakan bimbingan online (misalnya via email) haruslah atas kesepakatan antara dosen pembimbing dan mahasiswa. Menurut saya bimbingan skripsi online adalah yang saya gambarkan di atas yang pasti akan merepotkan bagi semua pihak.

  9. Suharto

    Sabtu, 3 Maret 2012 | 19:29

    Maaf, nama komentator Boy adalah saya (Suharto, penulis Gagasan ini). Saya sering menggunakan nama itu untuk mengomentari artikel-artikel di internet.

  10. PBJ

    Sabtu, 3 Maret 2012 | 19:37

    @kangpatmo
    tidak online bukan berarti kuno, saya ga bilang gitu. kan sudah dijelaskan online bukan 100% pengganti. Masalahnya gini, studi kasus aja, saya ada kakak kuliah di bandung, pas saatnya skripsi dia ada tawaran di total indonesie balikpapan. waktu dulu itu bisa jadi pilihan, ambil kerja, skripsi terbengkalai atau skripsi dulu dan kesempatan tertunda.
    karena Univ dia siap online, bisa tu kerja sambil bimbingan (tentunya kesediaan dosen paling penting, kalo dosen ga bersedia or butek internet pasti nda maw repot2x). cm karena dosennya sanggup ya akhirnya korespondensi via email, sampai siap ketika untuk bimbingan akhir sebelum sidang baru tatap muka intensif.. setelah itu sidang.. beres…
    coba kalau tidak menerima online, skripsi ga beres, ataupun berat di ongkos pulang pergi jawa-kalimantan cm buat bimbingan.
    itu jarak jauh, kalo jarak deket ya mungkin yang pernah kuliah (saya ga kuliah), pernah merasakan hari senin serahin draft.. suru ambil jumat.. jumat dateng,.., blom selesai.. susul senin .. lom selesai… rabu baru beres.. (2x perjalanan sia sia ke kampus).

  11. Ghufron

    Minggu, 4 Maret 2012 | 12:28

    Siskripsi menurut saya adalah jawaban atas perkembangan teknologi khusunya di perkuliahan. Akan tetapi jika SDM nya blm siap, malah menjadikan problem. Ngurus ini tidak mudeng, Ngurus itu tidak mudeng. Sehingga kita-kita, mahasiswa malah menjadi korban. mohon disiapkan dulu SDM nya agar sistem ini berjalan sebagaimana mestinya sehingga mahasiswa tidak selalu dirugikan. Terimakasih

  12. Aryo Sunaryo

    Minggu, 4 Maret 2012 | 20:06

    @PBJ
    sebenarnya tdk perlu diperpanjang, dirisaukan, dan ngotot.
    sy setuju dgn pernyataan “yg paling penting kesediaan dosen”. tidak hanya karena siap OL, melainkan -dan ini yg lebih penting- mau membaca SEMUANYA dan melakukan pembimbingan/pengoreksian!
    ketidaksediaan OL bukan karena butek atau gaptek internet, genah cethek banget kuwi…..aja rumangsa bisa…..
    salam….

  13. Suharto

    Senin, 5 Maret 2012 | 20:16

    Setuju, Pak Naryo.

  14. Joni

    Kamis, 24 Januari 2013 | 09:23

  15. Andy

    Kamis, 24 Januari 2013 | 12:05

    Kalau dilakanakan bisa bagus, lebih asyik dari pada ISO

Tinggalkan Komentar

Copyright © 2010 Universitas Negeri Semarang | Sitemap | Kredit | Arsip| Situs Lama | Masuk log
^Back to Top