Bersahabat dengan Perubahan


Bersahabat dengan Perubahan

SETIAP hal mengalami perubahan. Daun yang hijau akan menguning, lantas jatuh dari ranting. Air laut menjadi uap agar bisa menjadi awan, kemudian menjadi hujan.

Baik atau buruknya perubahan tergantung pada cara pandang seseorang. Ada sisi baik dan sisi buruk yang dapat dilihat. Pada jatuhnya daun, sisi buruk akan terlihat jika kita hanya memandang daun tersebut berubah menjadi kering. Namun sisi baiknya, daun akan lapuk dan menyuburkan tanah di sekitarnya.

Pada bidang ilmu sosial, perubahan berjalan begitu cepat bak air sungai. Demikian pula pada bidang sains. Tidak ada produk teknologi yang abadi, juga tidak ada teknologi maju yang diciptakan dengan hanya berdiam diri. Yang abadi dari sebuah teknologi adalah perubahan itu sendiri.

Teknologi yang dianggap canggih di masa lalu akan kalah dengan teknologi yang sudah mengalami perubahan saat ini. Seperti halnya aplikasi pembuat animasi Flash, awalnya orang-orang yang mampu menguasai software ini dianggap sangat update dan canggih. Namun dengan perubahan teknologi, Flash sudah menjadi software yang sangat biasa. Hanpir semua orang mampu menguasainya.

Perubahan Manusia

Ruang lingkup kehidupan manusiapun sama halnya seperti perubahan teknologi. Manusia selalu mengalami perkembangan menjadi lebih baik, begitu seharusnya. Jika perubahan pada teknologi bersifat progress atau maju, perubahan yang terjadi pada manusia terkadang justru mengarah pada kemunduran, mengapa hal ini bisa terjadi?

Kemunduran perubahan pada manusia dapat terjadi jika harapan yang dia inginkan dari suatu perubahan justru berbanding terbalik dengan realitas atau kenyataan yang ada. Seperti halnya orang-orang yang menginginkan gaji tinggi namun tidak melakukan apa-apa yang mampu menjadikannya memperoleh hal tersebut. Dia hanya bekerja seperti kebanyakan orang biasanya bekerja. Dia tidak melakukan inovasi dalam pekerjaannya

Sebagaimana perubahan dalam hukum fisika, perubahan pada diri manusia juga kerap diawali dengan tekanan. Energi terakumulasi sehingga menghasilkan perubahan bentuk, struktur, dan rupa. Ini berarti, orang-orang yang menghendaki perubahan dalam hidupnya harus siap menghadapi kondisi tidak biasa dalam dirinya. Ia perlu keluar dari zona nyaman.

Perubahan juga menuntut manusia memiliki pola bernalar yang up to date. Dalam arti luas, up to date berarti memahami situasi dan konteks, baik waktu maupun ruang. Misalnya, anak yang tumbuh berdampingan dengan perkembangan teknologi atau yang kita kenal dengan anak era digital native, mereka memiliki ciri khas tidak suka diatur namun bersedia melakukan suatu hal yang mereka anggap menarik dan mereka sukai.

Kerugian seseorang yang tidak mampu melakukan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman yang dinamis adalah dia akan semakin mengalami kemunduran pada dirinya sendiri. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya ketidaksesuaian cara mengajar orang-orang dengan cara berpikir lama yang diterpakan kepada anaknya yang jelas-jelas berbeda dengan masanya dahulu. Kita memang tidak boleh meninggalkan warisan masa lalu, tapi kita juga lebih tidak boleh mewarisi pola pikir masa lalu yang tidak relevan dengan perkembangan zaman saat ini.

Pendidikan adalah Perubahan

Dalam dunia pendidikan, perubahan adalah keniscayaan. Pertama, pendidikan itu sendiri diselenggarakan untuk mengubah kondisi seseroang, masyarakat, atau bangsa. Pendidikan diselenggarakan karena ketidakpuasan situasi terkini atau keinginan meraih kondisi ideal di masa depan. Kedua, pendidikan hidup pada konteks ruang dan waktu dimana pembelajar hidup. Konteks ruang dan waktu terus berubah.

Kondisi inilah yang menuntut orang-orang yang bergelut dalam pendidikan harus adaptif dengan perubahan. Tidak hanya metode belajar, media, dan kurikulum yang berubah. Lebih dari itu, cara kita memahami apa itu belajar juga terus berubah.

Dulu, penggunanan gawai (gadget) dalam ruang kelas dinilai sebagai aktivitas yang mengganggu. Di situasi sekarang ini, gawai justru bisa dimanfaatkan sebagai sarana belajar yang memadai. Dulu, kegaduhan di kelas adalah gangguan yang perlu diatasi. Namun sekarang, kegaduhan bisa dipersepsi bagian integral dari proses belajar itu sendiri.

Perubahan yang dipahami dengan sikap positif akan menghasilkan inovasi. Adapun perubahan yang disikapi secara negatif akan melahirkan guncangan. Jadi bagaimana cara kita memahami perubahan? Mempersepsinya sebagai ancaman atau mempersepsi sebagai tantangan?

Isna Laili Hikmah, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang.

11 komentar pada “Bersahabat dengan Perubahan

  1. Keren tulisannya.
    JikA dinamika adalah kunci dari perubahan, maka ide adalah tangan-tangan yang menggerakkan kunci tersebut. Dan ide utama dari tulisan ini Saya kira cukup menggambarkan bagaimana pintu fundamental pendidikan Indonesia yang sudah berlarut-larut tertutup dalam metode kuno dan tak membangun kecerdasan anak sudah mulai terbuka sedikit melalui tulisan ini.
    ^____^

  2. keren sekali mbak tulisannya, peran guru *guru secara genaral* disini tentu sangat besar pengaruhnya. guru yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan tetap idealis adalah sosok yang diperlukan sekarang.

  3. keren sekali mbak tulisannya, peran guru *guru secara general* disini tentu sangat besar pengaruhnya. guru yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan tetap idealis adalah sosok yang diperlukan sekarang.

  4. Terimakasih kawanku Akbar, Kak Zaki, Syahrul, saya masih terus berlatih.
    Pak Yuli, saya bangga menjadi mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.
    Mba Neni dan pak Budi, terimakasih, saya masih perlu banyak belajar.
    Mari saling mengingatkan.

  5. perubahan adalah keniscayaan. di kelas saya proses pembelajaran untuk beberapa bahasan malah harus diakses menggunakan gawai/hp. sementara tata tertib sekolah belum diubah; dilarang menghidupkan hp pada saat pelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X