Pragmatik “Benar” dan “Baik”


Pragmatik “Benar” dan “Baik”

PADA apel pagi hari Senin (16/2) lalu, pembina apel mengajak seluruh peserta apel untuk dapat bekerja dengan benar dan baik. Tentu saja ajakan ini berbeda dari kelaziman. Umumnya pejabat mengajak stafnya bekerja dengan baik dan benar, bukan dengan benar dan baik. Apakah makna kedua ungkapan itu berbeda?

Kata benar yang sinonim dengan kata betul bermakna ‘sesuai dengan yang seharusnya, tidak salah, tidak berat sebelah, adil, sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya’. Sementara itu, kata baik berarti ‘elok, patut, teratur, rapi, apik’. Dari kedua makna kata itu, tampak bahwa benar dan baik itu beriringan.

Mengapa harus benar dulu baru kemudian baik? Tujuan yang hendak dicapai adalah jangan sampai yang dinyatakan baik itu tidak benar. Yang utama harus diupayakan adalah benar, tetapi tidak benar semata melainkan benar dan baik. Fokus pernyataan baik dan benar adalah baik, padahal tidak semua yang baik itu benar.

Kita pernah menjumpai tulisan yang rapi baris dan tepi kanan-kiri dan atas-bawahnya. Akan tetapi, setelah kita teliti ternyata tulisan itu banyak salahnya atau banyak tidak benarnya. Kalimat, ejaan, tata tulis khususnya pemenggalan kata tidak benar. Masa pada baris keenam dan ketujuh ada kata khususnya yang dipenggal menjadi khusu– (akhir baris keenam) dan snya (pada awal baris ketujuh). Itulah keadaan yang dapat kita nyatakan bahwa tulisan itu baik tetapi tidak benar.

Ajaran bahwa kita harus mempertahankan kebenaran adalah benar. Akan tetapi, tidak baik kalau kita melakukan ajakan itu sampai bertengkar, apalagi di ruang depan sedang ada tahlil hari ketiga kematian orang tua kita (ini terjadi dalam cerpen Warisan karya Najib Kartapati Zuhri).

Sungguh, jika terjadi, peristiwa itu benar tetapi tidak baik. Upaya mempertahankan kebenaran itu harus dilakukan dengan benar dan baik. Kebenaran tetap dinyatakan tetapi dengan santun, tidak menyinggung perasaan mitra bicara kita, dan memperhatikan konteks, dsb. Itulah keadaan yang benar dan baik.

Benar bahwa seorang penganut agama Islam dianjurkan banyak membaca Alquran. Akan tetapi, tidak baik jika kita membaca Alquran dengan nyaring sementara di sebelah kita sedang ada yang melaksanakan salat. Kita harus berhenti membaca nyaring Alquran manakala di dekat kita ada yang melaksanakan salat.

Pejabat yang mengajak stafnya rajin, tekun, bersemangat, dan tidak terlambat bekerja berada dalam posisi benar. Namun, ajakan itu tidak baik jika bernada menegur di depan umum. Ajakan itu benar dan baik jika disampaikan dengan penuh rasa kekeluargaan, persahabatan, interpersonal; apalagi sambil isama (istirahat, salat, dan makan siang).

Jadi, secara akademis melaksanakan pekerjaan dengan benar dan baik berarti melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prosedur/ ketentuan/peraturan yang berlaku dan rapi, teratur, dan patut.

Kata dibenarkan bermakna ‘dinyatakan benar’ sedangkan dibetulkan bermakna ‘dibuat/diperbaiki menjadi betul/benar’. Keadaan yang salah seharusnya dibetulkan bukan dibenarkan. Namun, dalam kehidupan kadang-kadang ada pula keadaan yang salah dibenarkan (salah tetapi dinyatakan benar) dan keadaan yang benar disalahkan (benar tetapi dinyatakan salah). Untuk dua hal terakhir itu, mari kita menghindarinya!

– Prof Dr Rustono MHum, profesor ilmu pragmatika Universitas Negeri Semarang

satu komentar pada “Pragmatik “Benar” dan “Baik”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *