Belajar Ikhlas dari Kupu-kupu


Belajar Ikhlas dari Kupu-kupu

Ketika kita melihat kupu-kupu yang terbang, hinggap di satu bunga ke bunga yang lain, sayapnya tampak indah berwarna warni. Tidakkah kita terpesona melihatnya? Sebagian dari kita tidak bisa menahan diri untuk mendekati, mengamatinya dengan cermat, atau bahkan ingin memilikinya.

Tapi sama-sama kita tahu, di balik keindahan kupu-kupu yang kita kagumi itu ada perjuangan ulat kecil yang sering kali kita pandang dengan pandangan jijik, takut, dan mungkin geli.

Seekor ulat harus survive dari satu daun ke daun yang lain agar bisa tumbuh besar. Dia harus berjalan dengan ‘tertatih’ mencari rezeki yang telah Tuhan tabur dalam daun-daun. Ketika bertemu dengan manusia, ulat kecil akan menerima teriakan hingga sumpah serapah.

Tak jarang, bukan hanya teriakan yang ulat dapat, terkadang tangan-tangan manusia itu turut mendatangi si ulat kecil dan mengakhiri hidup ulat kecil begitu saja. Salahkah dengan dirinya?

Begitulah perjuangan ulat kecil itu. Dan sama-sama kita tahu. Perjuangan si ulat tidak berakhir hanya di situ saja. Ulat kecil harus terasing tanpa melihat dunia luar dan tanpa makan. Ulat kecil itu berpuasa. Menahan segalanya dalam waktu yang tak singkat. Sendiri menjadi kepompong yang sering kali terabsensi keberadaannya begitu saja.

Hingga tiba masanya, ulat itu menjadi seekor kupu kupu dengan sayap yang beraneka warna. Terbang riuh di antara bunga-bunga dan kita melihat dengan takjubnya. Begitulah perjalanan kupu-kupu.

Sabar dan ikhlas adalah bekal yang harus dimiliki untuk menjadi seekor kupu-kupu yang menawan. Begitu juga kita. Kita bisa belajar dari ulat kecil untuk menjadi indah. Meneladani setiap keikhlasannya pada setiap hal yang telah Tuhan  berikan.

Mungkin kita tidak lahir menjadi kupu-kupu yang menawan. Kita lahir menjadi ulat kecil yang membuat setiap manusia berteriak tidak suka pada kita. Ketakutan dan enggan mendekat. Tanpa keikhlasan yang besar, sanggupkah kita tetap bertahan ?

Kita juga bisa meneladani kesabaran dari ulat kecil, berjalan tertatih hanya untuk mencari sebuah berkah dari rezeki yang telah Tuhan  tebarkan di muka bumi ini. Kita bisa belajar kesabaran dan keikhlasan sekaligus pada ulat kecil. Ketika ia harus menahan diri, dalam waktu yang tidak singkat. Menahan untuk tidak makan, menahan untuk tidak merasakan hangatnya mentari pagi, menahan untuk tidak melihat senja di langit sore hari.

Ketika menjadi kepompong, ia berada dalam tempat yang gelap dan sendiri. Butuh sebuah kesabaran yang seluas langit dan keiklasan sedalam lautan.

Begitulah. Untuk menjadi “seseorang” pada masa mendatang, kita harus memiliki bekal kesabaran dan keikhlasan itu. Mungkin kita lahir bukan siapa-siapa. Tapi dengan ilmu, suatu saat kita bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi siapa pun. Adapun ilmu itu hanya bisa didapat dengan perjuangan. Perjuangan hanya akan berjalan dengan keikhlasan dan kesabaran.

Jadi, sudahkah kita berusaha ikhlas dan sabar?

Prof Dr Zaenuri MSi, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

3 komentar pada “Belajar Ikhlas dari Kupu-kupu

  1. Tulisan di atas merupakan sambutan yang saya sampaikan pada acara buka bersama dengan BEM dan para aktivis FMIPA pada hari Senin 27 Juni 2016. Sambutan saya dinarasikan dengan sangat baik oleh JODI FMIPA. Terima kasih pada JODI FMIPA, semoga menginspirasi mahasiswa FMIPA khususnya, dan UNNES pada umumnya

  2. Belajar ikhlas itu ya dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam..para Shabatnya Rodyallahuanhum ajma’in.., para tabi’in dan tabi’ut tabi’in Rahimahullah..serta para pewaris nya.. yaitu para ulama Ahlusunnah wal Jama’ah…

  3. Mantap Prof. Saya sepakat, kita bisa belajar dari banyak hal, termasuk makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Ikhlas membuahkan ketenangan dan ketenangan dekat dengan kebahagiaan. Suka statement Prof yang paragraf terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X