Waspadai SMS Penipuan, Ini Cara Mengenalinya

Jumat, 23 September 2016 | 4:25 WIB


Waspadai SMS Penipuan, Ini Cara Mengenalinya

Penipuan menggunakan pesan singkat (SMS) sudah terjadi berulang-ulang namun pelakunya sepertinya tidak pernah jera. Kejadian serupa masih terjadi kemarin (21/9) dengan menyebarnya pesan singkat yang mengatasnamakan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan menawarkan fasilitasi Seminar Nasional. Pesan serupa telah menyebar dengan berbagai versi mengatasnamakan Rektor, Wakil Rektor, Dekan lain dan Pejabat Tenaga Kependidikan.

Tawaran yang ada dalam pesan singkat tersebut biasanya sangat menarik dan penerima pesan merasa tertarik untuk merespon. Sayangnya, jika kita merespon SMS tersebut, kita bisa menempatkan diri kita dalam bahaya. Dengan mengetahui beberapa petunjuk berikut, kita bisa menghindarkan diri dari bahaya penipuan tersebut. Berikut adalah lima petunjuk menangkal penipuan menggunakan SMS.

1. Lembaga yang menyediakan seminar gratis di luar kota tentu bukan lembaga yang miskin. Maka pesan singkat atau SMS adalah cara komunikasi yang terlalu murah untuk menghubungi peserta. Cara yang lebih masuk akal adalah melalui fax atapun surat resmi. Komunikasi telepon sangat memungkinkan tapi kita tetap harus waspada. Undangan melalui email harus dicetak dulu kemudian mintakan pendapat ke UPT Pusat Humas UNNES atau unit resmi lainnya untuk mengetahui keabsahannya.

2. Penipu biasanya merasa cerdas tapi aslinya mereka tidak terlalu pintar. Kalau mereka pintar maka mungkin sudah mendapat pekerjaan lain yang halal. Karena tidak terlalu pintar maka dalam SMS mereka terdapat salah eja, salah definisi, salah penggunaan tanda baca, dan salah penyebutan. SMS yang beredar kemarin tanda baca dan penggunaan huruf kapital sangat kacau. Bahkan, Ibu Tandiyo Rahayu Dekan FIK UNNES disebut sebagai Bapak.

3. Seminar resmi yang melibatkan tokoh penting seperti Rektor maupun Menteri tidak akan menggunakan nomor pribadi tokoh yang bersangkutan. Pejabat tersebut akan sangat direpotkan jika dijadikan narahubung. Lagipula, nomor pejabat biasanya menggunakan telkomsel. Hanya kemungkinan kecil pejabat menggunakan provider lain. Alasannya: 1. pejabat sering keluar masuk daerah kunjungan dan butuh provider yang memiliki jangkauan terluas dan 2. pejabat biasanya sejak lama memiliki telpon genggam dan saat itu kartu SIM yang ada adalah Telkomsel dan Mentari. Jadi nomor yang berawalan 0818 atau 0817 atau 087 kemungkinan besar bukan Rektor atau Menteri.

4. Jangan terlalu berharap sesuatu datang dari langit dan gratis. Kita harus senantiasa waspada apabila mendapatkan tawaran gratis dalam hal apapun. Bukannya kesempatan gratis itu tidak mungkin, namun kewaspadaan jauh lebih baik diterapkan sebelum menyesal. Keserakahan membuat kita lengah.

5. Jika dalam keraguan, silakan langsung menghubungi UPT Pusat Humas di Gedung H lantai 2. Jangan sekali-sekali menelpon nomor asal SMS ataupun nomor yang tercantum di dalam SMS tersebut. Ada beberapa skenario terburuk kalau kita menelepon nomor tersebut: a. hipnotis, b. ancaman, c. penyedotan pulsa dan d. pencurian identitas dan akun bank.

Perlu disadari bahwa keselamatan kita menjadi tanggung jawab kita masing-masing. Oleh karena itu baik mahasiswa, staf maupun dosen harus selalu waspada dan melindungi diri dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.


DIUNGGAH : Hendi Pratama Dibaca : 546 kali
EDITOR : Hendi Pratama

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *