Tembang “Ilir-ilir” dan Tafsir Budaya Emha

Rabu, 8 Juni 2011 | 4:39 WIB


Tembang “Ilir-ilir” dan Tafsir Budaya Emha
AGUS/HUMAS

Tidak, Emha Ainun Najib tak sedang mendedah tafsir baru terhadap tembang “Ilir-ilir”. Namun suguhan tembang yang kerap kali disebut sebagai gubahan Sunan Kalijaga itu pada pengujung pementasan, terasa benar sebagai spirit orasi sepanjang hampir dua jam ia tampil bersama Kyai Kanjeng di halaman rektorat Unnes, Selasa (7/6) siang itu.

Lir-ilir lir-ilir/ tandure wong sumilir/ takijo royo-royo/ taksengguh temanten anyar/ cah angon cah angon/ penekna blimbing kuwi/ lunyu-lunyu penekna/ kanggo mbasuh dodotira/ dodotira dodotira kumitir bedhah ing pinggir/ dondomana rumatana/ kanggo seba mengko sore/ mumpung padhang rembulane/ mumpung jembar kalangane/ ya suraka surak hiya. Begitu tembang dibawakan secaa kolaboratif oleh Kyai Kanjeng dan Laskar Salawat mahasiswa Unnes.

Tak pelak, lewat pentas omong yang berseling dengan musik, budayawan yang akrab dipanggil Cak Nun itu pun mampu menahan ribuan mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen untuk tak beranjak dari tempat duduk masing-masing. Tak sia-sialah Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Hardjono MPd mengusung bagian dari rangkaian panjang acara fakultas, Bulan Pendidikan, itu ke level universitas.

Indonesia: Belum Jadi!
Lantas, apa yang dibincangkan oleh budayawan yang kerap kali dilarang penampilannya saat era Orde Baru itu? Tak ubahnya para dalang wayang kulit, Emha pun tak lupa mengambil hati tuan rumah dengan menebar pujian.

“Jika ingin mendapatkan surga di akhirat, ya bangun dulu surga di diunia. Membangun taman di sekitar tugu kekhalifahan, itulah contoh fisik membangun surga dunia,” kata Emha seraya menunjuk Tugu Sutera yang berjarak dua ratuan meter menjulang di depannya.

Kepada segenap civitas akademika, suami Novia Kolopaking itu menyebut kelebihan universitas hasil metamorfosis IKIP semacam Unnes. “Cah IKIP itu lebih andhap asor. Maka ketika kemudian berubah menjadi universitas, ia memiliki infrastruktur yang tidak dipunya oleh universitas lain, yakni andhap asor dan tidak sombong. Bersyukurlah orang yang tidak sombong, karena kesombongan sesungguhnya menutup pori-pori rohani,” katanya.

Pada bagian lain, penulis buku Slilit sang Kiai dan Lautan Jilbab itu menyebut Indonesia sebagai nasi yang belum benar-benar jadi. “Sukarno baru saja masang kompor, sudah diganti. Gus Dur baru juga nyumet (menyalakan –Red) kompor, juga tiba-tiba dihentikan. Kapan dadine sega Indonesia.”

Yang sudah ada, lanjut Emha, baru rakyat Indonesia. “Ya, ada baru rakyat Indonesia, tapi pemerintah belum. Belum pernah kita punya pemerintah yang sukses, tapi rakyat Indonesia sungguh sukses sebagai rakyat. Mereka adalah jenis rakyat yang memiliki ketahanan dan kesabaran luar biasa. Setiap hari dilanda banjir, tetap saja bahagia. Begitu disyut kamera televisi, bukannya menampakkan kesedihan, mereka malah melambaikan tangan dadadada,” katanya.


DIUNGGAH : Sucipto Hadi Purnomo Dibaca : 3.584 kali
EDITOR : Sucipto Hadi Purnomo

7 komentar pada “Tembang “Ilir-ilir” dan Tafsir Budaya Emha

  1. Wal hamdu li ilaahinaa, Al ladzi hadaanaa
    Unnes telah menyiapkan surga di dunia “Universitas Konservasi” yang akan menjadi surga diakhirat nanti. Amien 3x

  2. …Betul, alumni IKIP itu “andhap asor” dan menular ke Unnes, tidak pernah sombong meski kian menjadi besar!!..
    dan, “konser” semacam Kyai Kanjeng ini terasa makin menghijaukan bumi Sekaran (semoga lebih sering kocer di Bumi Sutera , ya Cak!..)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X