Tantangan Menjadi Guru BK Semakin Berat

Sabtu, 2 April 2011 | 13:19

HUMAS/AGUS SP

Kusnarto Kurniawan SPd MPd (Akbin), Dr Supriyo MPd (moderator), dan Drs Mahmudi (BKD Kota Semarang).

Berita Terkait

Beban kerja guru Bimbingan dan Konseling (BK) atau konselor paling sedikit bertambah 150 peserta didik per tahun  pada satu atau lebih satuan pendidikan. Itu artinya, akan semakin berat tantangan ke depan untuk menjalani profesi ini.

Kepala Bidang Administrasi Kepegawaian Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Semarang Mahmudi mengemukakan hal itu dalam diskusi panel “Pemangku Jabatan Guru BK” di aula Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) Unnes kampus Sekaran, Sabtu (2/4). Diskusi diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Unnes.

“Selain bertambahnya peserta didik, juga semakin tinggi tingkat kenakalan siswa pada zaman sekarang. Maka semakin berat pula tantangan yang akan dihadapi guru BK di masa mendatang,” katanya.

Selain bertambahnya peserta didik, imbuh Mahmudi, ternyata di lapangan yang bertindak sebagai guru BK tidak hanya lulusan BK. “Guru elektro,  guru bahasa, dan guru lainya yang bukan dari bidang BK pun menjadi guru BK. Ini juga menjadi tantangan sekaligus akan menjadi usulan bersama supaya pengadaan guru BK ke depan lebih selektif lagi.”

Mahmudi juga menginformasikan bahwa guru BK di Kota Semarang masih kekurangan. Di tingkat SMP, masih ada kekurangan 17 orang. “Di SMK tercatat sebanyak 46 orang, sementara yang dibutuhkan 56 orang. Untuk SMA sudah cukup,” katanya sambil memperlihatkan tabel informasi.

Abkin

Pengurus Daerah Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (Abkin) Provinsi Jawa Tengah Kusnarto Kurniawan SPd MPd menambahkan, tantangan yang harus segera diluruskan adalah seharusnya guru BK di sekolah adalah konselor  yang mendidik. Bukan dianggap sebagai “pemadam kebakaran”  atau momok yang ditakuti oleh siswa. “Akbin akan selalu mengontrol agar BK semakin bisa diterima di sekolah.”

Akbin, menurutnya, juga mengawal dan mengamankan implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 27 tahun 2008. “Misalnya dalam penerimaan guru BK baru harusnya berkualifikasi S1 BK dan pendidikan konselor,” katanya.

Dia juga menambahkan, Akbin juga aktif dalam pengawalan kompetensi terhadap guru BK di lapangan, meningkatkan kompetensi profesional mulai dari assesment, penyusunan program, pemberian layanan. Selain itu juga ada kegiatan pendukung seperti penilaian layanan serta penelitian tindakan BK melalui seminar dan lokakarya juga pendidikan dan latihan bekerja sama dengan dinas pendidikan provinsi.

“Akbin mengomunikasikan tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor kepada Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah dan BKD Jawa Tengah. Dengan pengawalan dan pengamanan implementasi permendiknas nomor 27 tahun 2008 dan kegiatan nyata untuk peningkatan kompetensi profesional tersebut, termasuk upaya nyata pelurusan BK yang masih dianggap polisi sekolah,” imbuhnya.

Lampiran : Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor

Diunggah oleh :
Editor: Agus Setyo Purnomo

30 Komentar untuk “Tantangan Menjadi Guru BK Semakin Berat”

  1. carti

    Minggu, 3 April 2011 | 09:01

    ya, saya setuju.. terima kasih atas infonya pak Mahmudi…

  2. gurun

    Minggu, 3 April 2011 | 11:46

    Merumuskan Visi dan Misi adalah salah satu bentuk dalam mengambil keputusan, bahkan pengambilan keputusan yang cukup fundamental. Visi dan Misi Anda akan menjiwai segala
    gerak dan tindakan di masa datang.

  3. karyati

    Minggu, 3 April 2011 | 15:18

    yang tidak relevan di mana-mna jg ada pak, ada lho skolahan yg di koordinatori bukan dr bk, yang sertifikasi jg ada bukan lulusan bk tp sertifikasi bk??? hebatkannn????

  4. ana

    Selasa, 5 April 2011 | 13:31

    setuju…
    perlu lebih selektif lagi dari pihak BKD dan juga dari Pemerintah pusat..jangan pertaruhkan nasib peserta didik dg pihak yang kurang relevan dg bidang nya…
    hidup konselor…

  5. AMIR YUSUF

    Rabu, 6 April 2011 | 08:51

    thanks infonya…
    idealnya memanga begitu, tapi riilnya seperti sekarang…. solusi?
    pengadaan guru dari Pemkot gandeng bareng unsur kompeten, kapan ada pemikiran DPL guru BK sesuai harapan ke sekolah swasta ….
    unnes mencetak guru oke. buat image guru BK yang kemedol bagaimana? pasti sekolah akan berebut mencarinya…
    dan sekolah memang butuh itu, kadang banyak kendala jg, akhirnya prioritas di guru kelas terlebih dahulu….

  6. Rifqi Nur Hanafi bk bANGET

    Jumat, 8 April 2011 | 22:13

    Semangat wahai konselor!!!!Jangan menyerah..perlu adanya sosialisasi tentang tugas guru pembimbing agar orang2 yg “mencomot” profesi qt itu GROGI dan MINDER serta kembali ke jalan yang benar..kembali ke asalnya..semangat!!!

  7. mico roles

    Jumat, 15 April 2011 | 20:04

    guru bk sangat perlu bagi siswa.jadi harap pertimbankan ol pemerinta

  8. syaiful i

    Selasa, 24 Mei 2011 | 07:34

    mf, terlambat nich, never mind, pernyataan tersebut diatas tul semua, terus yang mo sosialisasi ke KS and teman2 guru siapa krn nggak etis kalo sesama guru kita kasih tahu. Dan kenyataannya kita terus dijadikan polisi sekolah, tukang razia hp, ngasih poin plnggrn. Sampai kpn kondisi tersebut terjadi

  9. Ika Marintan

    Minggu, 26 Juni 2011 | 23:06

    Guru BK harus ada di setiap daerah.. dan jadilah guru BK (konselor) yg terampil

  10. lulu anggeraini

    Selasa, 17 April 2012 | 23:42

    Segalanya tidak ada yang tidak mungkin jika memiliki kemauan yang kuat, dimulai dari diri kita pribadi, jika kita bekerja sebagai konselor yang profesional di sekolah, lama kelamaan teman atau orang lain akan tertarik dengan cara kerja kita dan akhirnya mengikuti kita untuk bekerja dengan profesional. lama kelamaan tanpa disadari mereka akan meninggalkan cara2 anarkis ketika memberi layanan kepada peserta didik atau klien.

    bekerja lah dengan cara yang berbeda ketika menemui anak2 yang menguji kesabaran anda, karna jika hanya sebagai polisi sekolah/petugas jaga ketertiban/advicer/memarahi. itu semua bisa dilakukan oleh guru mata pelajaran.

    (InsyaAllah jika cara bekerja kita profesional, tidak ada lagi kata2 yang menyebutkan: “siapa saja bisa jadi guru pembimbing atau tidak ada guru pembimbing atau konselor sekolah tidak ada pengaruhnya buat sekolahan atau kata2 yang menyebutkan guru pembimbing itu tidak ada pekerjaannya”).

    Banggalah menjadi seorang konselor, Hidup Konseling Indonesia!!!

  11. Dinno

    Rabu, 30 Mei 2012 | 19:41

    saya adalah lulusan S1 Bimbingan Konseling 2010
    dari kampus universitas Negeri di jakarta
    saya sangat berharap bisa menjadi diluar jakarta
    karena saya ingin mengetahui potensi dan menambah pengalaman menjadi guru bk . saya harap saya diberikan kesempatan menjadi guru bk di semarang maupun daerah yang masih butuh guru bk. mohon info di email saya sekolah mana dan nomer kontaknya agar saya bisa menghubungi . terima kasih

  12. anis yunus suyamto

    Jumat, 13 Juli 2012 | 07:29

    Pak… saya orang tua/wali seorang siswa yang masih remaja. Yang aku pikirkan adalah bagaimana anak saya/anak murid semua bisa nyaman dalam belajar dan dalam proses pendidikannya, bagaimana mereka bisa mendapat pelayanan pendidikan dan pengajaran yang penuh. Namun saya melihat bahwa guru2 mereka punya beban kerja yang saya lihat luar biasa, mereka sering saya lihat terlalu asik dengan tugas-tugas administratif. Tuntutan administrasi yang harus mereka penuhi saya lihat memang luar biasa banyak. Kalau mereka benar-benar mengerjakan tugasnya, saya yakin, beliau-beliau takkan mampu beranjak dari bangku-bangku mereka. Apalagi mereka harus mengembangkan berbagai kegiatan pengembangan ilmu bagi pengembangan profesi, khususnya yang bersertifikasi. Kegiatan pendidikan dan pengajaran mereka menjadi terbengkelai. Itu bukan kesalahan para guru, tapi memang tuntutan administrasi yang berlebihan. Apakah ada pemikiran untuk mensejahterakan guru tanpa terlalu banyak tuntutan, sehingga guru sejahtera dan tugas utama mengajar dan mendidik lebih terperhatikan. Jangan ganggu guru dengan beban yang berlebihan, yang akhirnya malah mengganggu kinerja mereka dihadapan para anak didik. Sisi kemanusiaan mereka sebagai pendidik juga terganggu, demikian habis mengajar, mereka tak sempat bercengkrama dengan siswa yang sangat bermanfaat bagi pengembangan keakraban siswa guru, yang akan mampu mendukung dan mengembangkan pribadi siswa. Demikian habis mengajar mereka meninggalkan kelas menuju bangku mereka di kantor, dan sibuk dengan aktifitas ke administrasian beliau-beliau. Ini bukan salah guru, tapi sistem yang menjadikan mereka bagai mesin pengajar tanpa nurani. Ingat mengajar butuh nurani, bukan sekedar otak encer, bahkan saya yakin, nurani pendidik yang nanti paling berpengaruh bagi keberhasilan siswa-siswanya dari pada kecerdasan pendidik.

  13. diah

    Jumat, 10 Agustus 2012 | 09:09

    saya guru BK PNS di sebuah SMP di tegal dari lulusan psikologi + akta IV.Ketika itu memang lowongan cpns guru bk boleh dari psikologi + akta IV.Terkait dengan Permendiknas no 27 thn 2008, saya jadi bingung dan bertanya2 apakah semua guru bk wajib menjadi koneslor dengan kata lain wajib menempuh PPK? atau hanya lulusan yang terbaru yang terkena aturan itu agar bisa menjadi konselor sekolah? Ketika konsultasi ke BKD saya disarankan untuk menempuh S2 BK saja agar dapat menunjang PAK,kenaikan jabatan dan tupoksi yang sekarang?
    Mohon masukannya.terimakasih

  14. Tesar

    Jumat, 7 September 2012 | 10:51

    Tetap semanagat para konselor sejati,,,,, ……………. Hidup Konselorrrrr..

  15. wahyu aji

    Selasa, 16 Oktober 2012 | 14:49

    Guru BK menjadi sangat tertantang dengan penambahan anak didiknya
    menjadikan motivasi guru BK untuk menunjukkan kualitas BK sesungguhnya yang dapat dikangeni oleh anak dan diterima dengan lebih baik lagi
    satu hal tetap semangaaaat untuk mengembang tugas

  16. lia noor

    Kamis, 25 Oktober 2012 | 21:44

    Paling tdk, buang persepsi yg salah trhadap guru bk dan bukan sebagai madam kbakarn

  17. musthofa kamil

    Sabtu, 3 November 2012 | 08:42

    saya guru bk, dengan latar belakang PAI, guru swasta…. sudah sertifikasi, gmana dong nasib saya…..

  18. fahmy

    Rabu, 21 November 2012 | 23:32

    saya guru BK latar belakang sh…..apa bisa ikut cpns?balas ya

  19. irfah

    Selasa, 30 April 2013 | 11:55

    Klu razia tugas siapa pak

  20. Karyoso Pati

    Kamis, 16 Mei 2013 | 09:39

    tantangan guru BK tidak berat ah. siapa bilang tanatngan berat? justru ngga ada tantangan hilang semangat! ya ngga?

  21. ijum

    Minggu, 19 Mei 2013 | 20:28

    saya mahasiswi bk. angkatan 2011 semester 4, di samarinda kaltim. yang saya lihat dari daerah kalimantan timur sendiri. kurangnya guru bimbingan konseling di sekolah smp, sma/smk di daerah ini. membuat guru-guru di sekolah menjadi guru bk, akan tetapi bukan dari jurusan bimbingan konseling sebenarnya. hanya saja untuk melengkapi program kerja yang dicanangkan pemerintah. menurut saya, menjadi guru bk, tidak bisa dibilang susah, tidak juga dibilang gampang. sebab semua itu butuh proses untuk menjadi profesi bk professional.

  22. raudhatul jannah

    Senin, 17 Juni 2013 | 11:51

    saya guru BK tapi latar belakang sarjana hukum apa bisa ikut cpns?balas ya………

  23. ady

    Senin, 24 Juni 2013 | 04:02

    Guru BK di jawa tenggah memang harus di tingkatkan,tp kenapa sampai sekarang untuk cpns guru BK hanya dibutuhkan sedikit,,,,

  24. ersih

    Rabu, 14 Agustus 2013 | 15:05

    sy juga lulusan BK thn 2007..dikalbar utk penerimaaan CPNS msh sangat kurang…sy smp sekarang masih menjadi tenaga honorer…gmn nasib guru BK dikalbar?

  25. Arif

    Minggu, 18 Agustus 2013 | 19:07

    yang setuju pasti lulusan prodi BK. hahahaaa…….!
    saya juga setuju, BK sangat penting dalam pembentukan karakter, maka harus dimaksimalkan di setiap sekolah. Salah satu unsur penting pembentukan manusia adl membangun jiwa & raga. raga sudah diasah oleh guru olahraga, maka jiwa sudah tentu dibangun oleh guru BK.

  26. m. yamin

    Senin, 23 September 2013 | 08:22

    terima kasi infonya sanagta membantu sya tuk memmahami ttng tugas guru bk

  27. ririn

    Rabu, 16 Oktober 2013 | 10:11

    saya lulusan S1 Bk,, sekarang saya berkerja d slh satu sma negeri sorong kota, saya masih sebatas guru honor,di sini penerimaan upah kerja yang hampir tak sama dengan hasil kerja,karna pengeluaran disini lebih besar daripada pendapatan.saya ingin setidaknya segera ada rancangan apa untuk menghargai guru honor kususnya guru BK.supaya pendapatan dan pengeluaran seimbang.terimakasih

  28. Yuni

    Kamis, 6 Februari 2014 | 11:35

    saya guru BK tapi latar belakang sarjana hukum apa bisa ikut tes cpns?balas ya………Mohon dijawab ya………..

  29. MARIATUL ULFA

    Jumat, 21 Februari 2014 | 19:57

    saya pengen ambil BK… saya butuh motivasi untuk menambah semangat saya pak bu!!! mohon saran dan motivasinya
    terima kasih :)

  30. raisa

    Kamis, 3 April 2014 | 10:18

    saya guru BK tapi latar belakang sarjana hukum apa bisa ikut tes cpns?balas ya………Mohon dijawab ya………..udh 2 tahun honor apa bisa ikut tes PNS>>>????

Tinggalkan Komentar

Copyright © 2010 Universitas Negeri Semarang | Sitemap | Kredit | Arsip| Situs Lama | Masuk log | Arsip PS | Arsip PS
^Back to Top