SMK Damansara Utama Malaysia Kunjungi Unnes

Sabtu, 31 Mei 2014 | 13:12 WIB


SMK Damansara Utama Malaysia Kunjungi Unnes
SIHONO/HUMAS

Sekolah Menengah Kebangsaan Damansara Utama (SMK Damansara Utama) Malaysia berkunjung ke Universitas Negeri Semarang (Unnes) kampus Sekaran Gunungpati, Jumat (30/5).

Rombongan 40 orang dengan 8 guru pendamping yang dipimpin Hajah Zulaika binti A Rahman itu diterima Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum LP3 Unnes Prof Dr Tri Marhaeni Pudji Astuti MHum, Prof Dr Wasino, Prof Dr Dewi Liesnoor Setyowati, dan Kepala BAAKK Heri Kismaryono MM.

Kepada tamunya, Heri Kismaryono menyampaikan profil Unnes, di antaranya jumlah fakultas, program studi, prestasi mahasiswa, dan Unnes yang sedang menerima mahasiswa baru lewat jalur SNMPTN . Dikemukakan pula beasiswa full study bagi 1.850 orang yang berprestasi namun secara ekonomi kurang mampu.

Fatin, salah satu murid menanyakan perbedaan pendidikan kimia dan kimia. “Apa itu Tata Boga dan Tata Busana?”

Lain lagiu Rafidah. Dia menanyakan tentang beasiswa full study dan biaya kuliah di Unnes.

Mendengar pertanyaan itu, Prof Tri Marhaeni mengatakan, semua program studi (prodi) yang depannya ada kata pendidikan (Pendidik Kimia) di Unnes jika mahasiswa itu lulus dia berhak menjadi guru, tapi prodi yang di depannya tidak ada kata pendidikan (kimia) dia tidak berhak menjadi guru.

Untuk Tata Busana, kata Prof Tri Marhaeni, mahasiswa setelah lulus menjadi desainer, untuk Tata Boga mahasiswa setelah lulus terjun ke kuliner menjadi wirausahawan.

Soal beasiswa full study, Prof Marhaeni mengatakan, beasiswa itu bersifat nasional. “Semua perguruan tinggi baik negeri mapun swasta mendapatkan beasiswa selama delapan semester dan tiap bulan mahasiswa mendapat biaya hidup Rp 6oo ribu. Khusus Unnes 2014 ini membebaskan 1.850 mahasiswa.”

Dikmukan pula, mahasiswa Unnes tidak hanya dari dalam negeri saja. Dari luar negeri pun banyak, di antaranya dari Malaysia, Amerika, Turki, Jepang, Thailand, Vietnam, Inggris, Cina, Italia, Hongaria, Afganistan, dan Lithuania.

Biaya hidup, kata Prof Tri Marhaeni, sangat-sangat murah dibandingkan dengan negara asal. Misalnya biaya hidup di Malaysia lebih mahal dibanding dengan biaya hidup di Indonesia, apalagi biaya hidup di kampus Unnes.


DIUNGGAH : Sihono Dibaca : 1.023 kali
EDITOR : Sucipto Hadi Purnomo

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X