Saatnya Meng-Hollywood-kan Film Indonesia

Jumat, 6 Desember 2013 | 13:55 WIB


Kekuatan film Indonesia ada pada kekayaan budaya dan identitas lokal. Bila terus digali lebih mendalam, hal ini seharusnya mampu pula menjadi identitas yang kuat.

Hal itu terungkap dalam diskusi novel Bukan Hollywood, Bro! karya Budiyati Abiyoga, Kamis (5/12), di Wisma Perdamaian Semarang. Diskusi tersebut merupakan rangkaian acara Festival Film Indonesia yang berlangsung hingga Minggu (7/12) di Semarang.

Menurut Budiyati, tokoh-tokoh superhero dalam cerita rakyat maupun legenda di Tanah Air bisa diangkat menjadi brand yang kuat. “Cuma dari sisi teknis harus selalu ditingkatkan supaya memiliki daya saing dan meraih minat, setidaknya oleh masyarakatnya sendiri,” ujarnya.

Narasumber lain dalam kesempatan yang sama, Suseno, mengatakan novel Bukan Hollywood, Bro! adalah wujud kegalauan pada kondisi sekarang. “Selama ini yang selalu menjadi patokan kualitas adalah Hollywood. Padahal bila potensi yang dimiliki selalu dimaksimalkan, justru produk kita ini akan mampu punya kualitasnya sendiri,” kata dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang ini.

Diskusi yang dipadati oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Semarang ini juga diselingi dengan pemutaran film-film Indonesia terbaru, seperti Manusia Setengah Salmon, Belenggu, dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Yusro Edy Nugroho, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes yang juga pegiat film independen mengatakan, pemerintah harus berupaya sungguh-sungguh untuk mendorong generasi muda mencintai film Indonesia. “Salah satu upayanya menyediakan wahana apresiasi dan memberikan kesempatan mereka untuk membuat film berdurasi pendek,” katanya.

Diskusi berlanjut pada Kamis malam di FBS Unnes. Roy Marten, aktor kawakan dalam perfilman Indonesia hadir dalam kesempatan itu. Menurutnya, sudah selayaknya mahasiswa bergiat dalam dunia perfilman. Karena dari proses ini, mahasiswa akan belajar banyak hal.

Menurutnya, hal yang paling utama dari membuat film adalah ide. “Percuma jika menguasai teknis perfilman tapi tidak punya ide. Setelah itu, jangan terlalu mempermasalahkan ‘akan ditonton siapa?’ Internet dan jejaring sosial adalah jagat yang mahaluas. Banyak yang akan mengapresiasi karya kita,” katanya.


DIUNGGAH : Dhoni Zustiyantoro Dibaca : 928 kali
EDITOR : Dhoni Zustiyantoro

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X