Romantika dalam Tafsir Gerak Klasik hingga Modern

Minggu, 17 Juni 2012 | 2:05 WIB


<em> Romantika dalam Tafsir Gerak Klasik hingga Modern </em>
DOK PANITIA

Koreografi "Tongcling", karya mahasiswa Jurusan Seni Tari FBS Unnes.

Beberapa penari memasuki panggung temaram. Berlatar deburan ombak, mereka bekostum compang-camping―diibaratkan sampah. Sesekali bergerak ritmis, sesekali acuh pula pada irama.

Tidak lama setelah itu, beberapa gadis pantai bergabung. Berlagak wisatawan yang sedang berlibur, mereka bersantai menikmati pantai, juga berfoto. Namun mereka menyisakan perkara; meninggalkan sampah. Pantai kotor dan tercemar. Dua orang pemungut sampah dengan sigap memunguti kotoran yang berserakan, termasuk para penari “sampah” yang dimasukkan ke dalam tong berukuran besar.

Sebuah koreografi berjudul “Tongcling” membuka Pergelaran Tari 2012 yang diselenggarakan mahasiswa Pendidikan Seni Tari Sendratasik (Seni Drama Tari dan Musik) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes, Sabtu (16/6). Perhelatan tahunan yang dilangsungkan di B6 fakultas itu mampu membius ratusan penonton. Tongcling setidaknya memberi pesan sederhana.

Pada bagian lain, ada cerita yang lebih klasik. Dropadi kala itu dipertaruhkan oleh suaminya, Yudistira, karena semua hartanya habis untuk menuruti kegemarannya bermain dadu. Karena kelicikan lawannya, yakni Dursasana, Yudistira kalah dan terpaksa merelakan sang istri. Namun Dropadi tidak serta merta menurut. Secara kasar, ia diseret Dursasana. Dibawa ke tempat di mana Yudistira dan saudaranya berkumpul. Hal ini serta-merta membuat keluarga Pandawa marah besar.

Bima, dengan wataknya yang selalu melindungi utuhnya keluarga besarnya itu, menghajar habis Dursasana. Para penari memvisualisasikan adegan itu dengan gerak dinamis. Diselingi dengan fragmen siluet wayang kulit dibalik layar putih di panggung bagian belakang. Musik pengiring pun bertalu-talu. Satu kesatuan yang mampu pula membawa emosi penonton. Cerita itu diakhiri dengan Bima yang mempersembahkan “darah” Dursasana yang telah diwadahi kepada Dropadi.

Malam itu, ada 8 koreografi yang dimainkan. Kesemuanya merupakan karya baru mahasiswa Seni Tari Unnes angkatan 2008 dan 2009. Masih ada 5 karya lagi yang akan ditampilkan di auditorium Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang, Jumat (22/6) malam, mulai pukul 19.00. Pergelaran merupakan hasil kerja bareng antara mata kuliah Pergelaran dan Manajemen Produksi jurusan itu. Persiapan telah dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Dalam praktiknya, pentas masih terganjal kesadaran-kesadaran kecil, seperti hilangnya fungsi pendingin ruangan. Juga efek asap pada beberapa koreografi yang malah menjadikan penonton terbatuk-batuk. Mungkin juga penyelenggara.


DIUNGGAH : Dhoni Zustiyantoro Dibaca : 3.948 kali
EDITOR : Dhoni Zustiyantoro

5 komentar pada “ Romantika dalam Tafsir Gerak Klasik hingga Modern

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *