Rektor: Konservasi Harga Mati

Kamis, 22 Maret 2012 | 7:29 WIB


Rektor: Konservasi Harga Mati
JAWADI/HUMAS

Dua tahun lalu, Universitas Negeri Semarang menjatuhkan pilihan pada konservasi. Pilihan ini bukanlah hal yang terburu-buru, apalagi demi mencari sensasi belaka. Ini adalah amanat yang harus segera dilaksanakan.

“Dengan kata lain, konservasi merupakan harga mati yang tak bisa lagi ditawar,” kata Rektor Universitas Negeri Semarang Prof Dr Sudijono Sastroatmodjo MSi saat refleksi dua tahun Deklarasi Universitas Konservasi, Selasa (20/3) malam, di auditorium kampus Sekaran.

Rektor juga mengungkapkan, tidak mungkin universitas ini membangkang aturan pemerintah. Segala aturan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Kemendikbud harus ditaati dan ditegakkan. “Unnes akan selalu menjadi yang terdepan menyatakan kesiapan dalam menaati asas,” tandasnya.

Hal itu, lanjutnya, termasuk ketika pemerintah melalui Kemendikbud mewajibkan lulusan sarjana S1, S2, dan S3 menerbitkan jurnal ilmiah. “Universitas konservasi adalah universitas pertama yang menyatakan diri siap melaksanakan amanat,” tutur Rektor.

Unnes melalui Badan Pengembang Teknologi Informasi dan Komputer (BPTIK) telah memaksimalkan fungsi information technology (IT). Melalui itu, segala akses informasi dapat diperoleh publik dengan cepat. “Untuk jurnal, kami telah menyiapkan kapasitas khusus, tidak ada alasan untuk tidak siap menjalankan itu,” katanya.

Terkait dengan tradisi menulis yang digalakkan oleh pemerintah, Rektor menekankan, tradisi itu telah tumbuh dan berkembang di universitas konservasi. Hal itu dibuktikan dengan lolosnya program kreativitas mahasiswa (PKM) Unnes sebanyak 654 karya. “Capaian ini sangat menggembirakan karena Unnes terbanyak se-Indonesia,” katanya.

Dalam acara yang dihadiri oleh pejabat dan fungsionaris organisasi kemahasiswaan itu, Rektor juga menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa. Mereka umumnya menanyakan tentang belum terealisasinya pembangunan gedung di beberapa fakultas.

“Pembangunan dan dipenuhinya kelengkapan sarana di universitas membutuhkan pembahasan konsep yang panjang dan dana yang tentu tidak sedikit. Belum lagi harus kita kedepankan asas prioritas, mana yang memang mendesak harus kita segerakan,” kata Rektor.


DIUNGGAH : Dhoni Zustiyantoro Dibaca : 2.192 kali
EDITOR : Sucipto Hadi Purnomo

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *