Olahraga Tonnis Butuh Wadah Organisasi

Rabu, 26 Maret 2014 | 12:45 WIB


Olahraga Tonnis Butuh Wadah Organisasi
SIHONO/HUMAS

Olahraga Tonnis ini setelah saya amati ternyata lebih mudah dari pada olahraga tenis. Kalau mendidik tenis itu basiknya katakanlah dua tahun. Namun di tonnis tidak begitu, hanya baru beberapa kali main saja seseorang sudah bisa menguasai permainan tonnis.

Wakil Ketua Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) Yayuk Basuki menyampaikan itu disela-sela pertandingan Tonnis Piala Rektor VI, Sabtu (22/3) di halaman auditorium kampus Sekaran.

Sebab, kata Yayuk Basuki (mantan pemain tenis nomor satu Indonesia) olahraga tonnis itu mirip dengan batminton atau bulutangkis. Jadi semua lapisan masyarakat bisa memainkan. Selain itu tonnis juga bisa dimainkan dimana saja misalnya di halaman, di jalan dan sebagainya.

“Tonnis ini lebih bisa dikembangkan pada olahraga masyarakat. Jadi masyarakat semua bisa terjun ke olahraga ini makanya harus ada wadah organisasinya supaya teratur,” tegas Yayuk Basuki yang nama lengkapnya Nani Rahayu Basuki.

Untuk itu, kata Yayuk Basuki, tonnis ini harus didaftarkan dulu wadahnya, apakah ke KONI, ke Menpora atau yang lain supaya diakui. Jika sudah mendapat pengakuan untuk mengembangkan olahraga tonnis ini bisa lebih luas.

“Kalau pesertanya sudah banyak, peminatnya juga sudah banyak, saat ini animonya bagus, malah lebih bagus dari pada tenis mengapa tidak kita buat wadah sendiri,” kata Yayuk Basuki.

Dari olahraga tonnis ini, Yayuk Basuki berharap, muncul bibit-bibit unggul mengembang ke tenis.

Sementara itu, Tri Nurharsono MPd dosen Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) Unnes pencipta olahraga tonnis menyampaikan, saat mengajar tenis dilapangan apabila tidak didasari dengan tonnis maka hasilnya STMJ (sekali tamplek mati jengkel).

Sehingga, kata Tri Nur, saya kembangkan tonnis karena tonnis ini sangat mudah sekali dipermainkan harapannya bisa dikembangkan ke pelosok-pelosok karena tonnis ini mudah, murah, meriah dan bisa dimainkan siapa saja mulai dari anak SD, SMP, SMA dan sederajat, serta orang dewasa.

“Tonnis ini munculnya berasal dari akademisi dari penelitian-penelitian, dari situ kemudian kita kembangkan bulan November 2009 mendapat hak cipta dari Kemenhum dan HAM RI,” kata Tri Nur.


DIUNGGAH : Sihono Dibaca : 1.388 kali
EDITOR : Rahmat Petuguran

2 komentar pada “Olahraga Tonnis Butuh Wadah Organisasi

  1. sangat setuju dengan komentar beliau yayuk basuki,supaya tonnis dapat berkembang pesat di seluruh plosok Indonesi.Salam Olahraga

  2. Maju terus dan pantang mundur pak dhe tri…siapa lagi kalau tidak panjenengan yang berjuang…dan lembaga sudah seharusnya tetap mendukung. Memang untuk “Tonnis” adalah tantangan, karena bangsa kita ini untuk pengembangan olahraga baru senangnya meniru yang sudah ada, meskipun itu sebenarnya adalah mainan anak-anak indonesia…hidup olahraga Unnes dan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X