Mengeja “Kelam Jiwa” Georg Trakl

Selasa, 19 Februari 2013 | 13:12 WIB


Mengeja “Kelam Jiwa” Georg Trakl
DHONI ZUSTIYANTORO

Berthold Damshauser ketika membacakan salah satu puisi dalam Kumpulan Puisi Karya Georg Trakl, Selasa (19/2), di FBS Unnes.

Karya Georg Trakl patut diperhitungkan dalam kesusasteraan barat. Beraliran ekpresionisme, puisi-puisinya sulit dirasakan pancaindera karena mengedepankan soal kejiwaan.

“Trakl selalu membicarakan penderitaan. Kritiknya terhadap peradaban modern disampaikan dalam bahasa yang khas,” ujar Berthold Damshauser, dosen Universitas Bonn Jerman, saat menjadi pembicara dalam Peluncuran Jilid ke-VII Seri Puisi Jerman Kumpulan Puisi Karya Georg Trakl “Mimpi dan Kelam Jiwa”, Selasa (19/2), di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes).

Acara tersebut merupakan hasil kerja sama Goethe Institut Indonesien, Rumah Buku Dunia Tera, dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes. Diskusi dimoderatori oleh Direktur Rumah Buku DuniaTera Dorothea Rosa Herliany. Hadir pula penyair Semarang yang membacakan puisi Trakl, Timur Sinar Suprabana.

Berthold mengatakan, telah lama Trakl diakui sebagai penyair abad 20. Banyak referensi dan karyanya yang dikagumi oleh para filsuf. “Sayangnya ia meninggal di usia 27 tahun,” katanya.

Kumpulan puisi “Mimpi dan Kelam Jiwa” diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Berthold bersama Agus R Sarjono. Di dalamnya kental metafora yang gelap dan intensif juga aroma tragedi sang penyair Trakl. “Ia seakan mewakili kehidupan seniman di barat yang tak semuanya cemerlang,” ujar kolumnis kolom “Bahasa!” majalah Tempo itu.

“Trakl menulis tanpa rencana, spontan. Kemudian di hari berikutnya, dia bisa saja merevisi. Itulah mengapa beberapa puisinya terdiri dari bab-bab,” kata Berthold. Diskusi serupa juga akan diselenggarakan di Solo, Magelang, dan Yogyakarta.


DIUNGGAH : Dhoni Zustiyantoro Dibaca : 2.389 kali
EDITOR : Dhoni Zustiyantoro

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *