Membaca Politik dari Buku Puisi

Jumat, 29 Mei 2015 | 18:00 WIB


Membaca Politik dari Buku Puisi
HUMAS/ LINTANG HAKIM

Sebuah ruang diskusi sastra kembali digelar di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS). Kali ini jurusan Bahasa dan Sastra Jawa lah yang menjadi tuan rumah diskusi buku puisi berjudul Manusia Istana Karya Radhar Panca Dahana.

Bertempat di Ruang Bundar Dekanat FBS, Kamis (28/5). Diskusi yang dimoderotari oleh Sucipto Hadi Purnomo tersebut menghadirkan kembali Triyanto Triwikromo dan S Prasetyo ke kampus yang dulu menjadi tempat mereka belajar. Namun pada kesempatan ini, kedua begawan sastra Indonesia tersebut hadir bukan sebagai mahasiswa Unnes, melainkan untuk memantik diskusi bersama Bandung Mawardi.

“Buku ini merupakan sebuah pintu untuk mengenal politik di Indonesia, di dalam buku ini berbagai persoalan politik dikemas secara puitis sehingga membentuk opini tentang dinamika situasi politik “, tutur Triyanto.

Diskusi yang berjalan gayeng ini, mula-mula dibuka dengan pembacaan puisi oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, kemudian tak mau ketinggalan beberapa mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa pun nembang di jeda-jeda diskusi.

Salah seorang peserta diskusi, Ken Kausar Abdurrahman mengaku tertarik mengikuti diskusi ini dari awal hingga akhir. Baginya untuk memahami suatu pergolakkan, manusia harus membuka cakrawala seluas mungkin. Dan karya sastra adalah salah satu media yang mempunyai nilai tinggi untuk dijadikan referensi.

Diakhir diskusi, Radhar Panca Dahana menyampaikan sebuah kalimat penutup, bahwa sebuah karya harus mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan karena hal tersebut merupakan bagian dari syukur atas rizki diberi kesempatan untuk berkarya.
(Student Staff/ Aji Kusuma)


DIUNGGAH : Lintang Hakim Dibaca : 322 kali
EDITOR : Lintang Hakim

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *