Mahasiswa Sebagai Pengawalan Kebijakan Pendidikan

Sabtu, 22 Oktober 2016 | 21:30 WIB


Mahasiswa Sebagai Pengawalan Kebijakan Pendidikan
SETYO/HUMAS

Untuk mempersiapkan mahasiswa dalam berorganisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengadakan Pelatihan Majemen Dasar Kepemimpinan (PMDK) di auditorium FT, Sabtu (22/10).

Kegiatan ini dilakukan rutin setiap tahunnya, kali ini mengambil tema, “Aktualisasi Jiwa Pemimpin yang Prestatif dan Humanis dengan semangat Bela Negara”.

Menurut Wakil Gubernur BEM FT Septian EP, Pemimpin ada bukan karena dilahirkan, melainkan dibentuk dan diproses melalui proses pelatihan kepemimpinan salah satunya, PMDK inilah contohnya.

Namun ada hal yang menarik dalam PMDK tahun 2016 ini, yaitu disisipkannya Dialog Interaktif bersama Komisi X DPR RI, Drs. A. H. Mujib Rohmat. Dialog Interaktif yang didampingi oleh Dekan Fakultas Teknik Dr Nur Qudus dan Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Dr Wirawan Sumbodo.

Peserta pun antusias mengikuti dialog yang lebih menfokuskan kepada peran mahasiswa dalam pengawalan kebijakan pendidikan kali ini. Pemaksimalan  bonus demografi merupakan peran yang sangat penting dalam pengawalan kebijakan pendidikan Indonesia. Hal ini dikarenakan bonus demografi juga sangat rentan ketika kesempatan itu tidak dimanfaatkan terlebih dalam peningkatan kualitas pendidikan. Sehingga pemanfaatan pendidikan yang baik dalam bonus demografi ini akan sangat mempengaruhi kemajuan Indonesia.

Mujid Rohmat menyampaikan, perlu adanya Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang jelas dalam pendidikan Indonesia, karena GBHN merupakan kepentingan negara, bukan kepentingan pemerintah yang setiap periodenya dapat berubah dan menjadi semakin tidak jelas kearah mana tujuan sebenarnya pendidikan di Indonesia itu sendiri.

Ia berpesan kepada mahasiswa,  mahasiswa yaitu bahwa seorang mahasiswa memiliki tiga kekuatan besar, yaitu kekuatan moral yang sampai sejauh mana seorang mahasiswa dapat mempertahankan idealismenya, kekuatan sosial dimana mahasiswa memiliki basis masa yang besar, dan yang terakhir yaitu kekuatan intelektual yang mana masyarakat sangat mengharapkan solusi intelektual mahasiswa atas permasalahan nyata yang ada dalam masyarakat.


DIUNGGAH : Setyo Yuwono Dibaca : 790 kali
EDITOR : Setyo Yuwono

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *