Lomba Paduan Suara Lagu Dolanan Anak

Kamis, 29 November 2012 | 16:11 WIB


Lomba Paduan  Suara Lagu Dolanan Anak
DOK/BADAN PENGEMBANGAN KONSERVASI

Divisi Etika, Seni, dan Budaya Badan Pengembangan Konservasi  Universitas Negeri Semarang (Unnes),  mengadakan lomba Paduan Suara Lagu Dolanan Anak Jawa Tengah Tingkat SD Se-Kota Semarang, beberapa waktu yang lalu.

Lomba dengan tema “Dengan Lagu Dolanan Anak, Kita Wujudkan Konservasi di Bidang Etika, Seni, dan Budaya” itu digelar di gedung B6 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes.

“Ini merupakan lomba yang pertama kali di gelar dalam rangka pelaksanaan program kerja Badan Pengembangan Konservasi Unnes,” kata Kadiv Kader BadanPengembangan Konservasi Unnes, Drs Kusmuriyanto MSi.

Pada kegiatan itu, SD  Santo Aloisius terpilih menjadi juara I, disusul  SD N Rejosari 01 sebagai juara II, dan SD  N Gayamsari 02 meraih juara III.

“Sebagai perwujudan visi dan misi sebagai Universtias Konservasi, lembaga ini melalui Badan Pengembangan Konservasi melaksanakan berbagai kegiatan terkait  dengan konservasi yang terbagi ke dalam beberapa divisi,” kata Kusmuriyanto.

Selain memperoleh piagam, para pemenang juga mendapatkan piala dan sejumlah uang pembinaan.


DIUNGGAH : Agestia Putri Nusantari Dibaca : 2.038 kali
EDITOR : Dhoni Zustiyantoro

7 komentar pada “Lomba Paduan Suara Lagu Dolanan Anak

  1. Selamat bagi para juara, satu langkah bermakna bagi konservasi lagu dolanan anak, dengan harapan masih bisa dinikmati generasi mendatang…

  2. Heran, kenapa di saat yang hampir bersamaan di Unnes mengadakan lomba2 pencarian bakat ya? ada sinden idol lah, lomba mc lah, lomba paduan suara lah.. kalo waktunya tidak bersamaan gpp sih…

  3. Saudara Epik, hal itu tidak lain karena Universitas Konservasi selalu ingin khidmat di jalur ini. Selain mewadahi mereka yang punya perhatian lebih pada jalur tertentu, Unnes juga menguatkan jalur itu melalui penjaringan dan pendampingan. Mari memaknai ulang konservasi. Salam.

  4. Saudara Dhoni, sebenarnya yang menjadi pertanyaan adalah “kebetulannya” itu, kenapa harus berbarengan. Ini memicu kegiatan terasa remeh hanya sekedar “ada” saja…

  5. Sebenaranya di tiap bagian kampus ini, semangat itu bagaikan nafas yang tak lagi terpisahkan. Bukan remeh atau sekedar ada, tetapi kegiatan serempak itu adalah wujud betapa konservasi makin mawujud.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X