Kisah Klasik See-Conic

Senin, 26 Agustus 2013 | 12:00 WIB


Kisah Klasik See-Conic
Dwi Sulistiawan/Humas

Bintang Hanggoro Putra tengah melatih Panappa Sukperm, mahasiswa program See-Conic Unnes asal Thailand beberapa waktu yang lalu

“Janganlah engkau lupa, sampaikan tusuk konde bersama surat ini kepada Kangmas Sri Rama. Sampaikan pula suara hati Shinta yang teramat rindu!”

Itulah kesan Panappa Sukperm, mahasiswa program Short Course of Environmental Conservation and Indonesian Culture (See-Conic) Universitas Negeri Semarang (Unnes) asal Thailand yang menyaksikan sendratari ramayana di panggung terbuka prambanan, Sabtu malam (24/8).

“Walaupun tidak ada dialog yang dituturkan oleh para penari, saya mengerti maksudnya,” kata panappa yang diamini oleh temannya sesama mahasiswa asing itu.

Dia mengungkapkan cukup senang, namun ia mengaku cukup sulit mempelajari gerakan tarian tradisi Jawa. “Cukup sulit juga menarikan tarian Jawa. Selain gerakannya harus seirama, tempo tari yang cukup lambat membuat saya sedikit kesusahan,” katanya.

Menurut dia, ada perbedaan yang cukup menonjol antara tari daerahnya dengan tarian tradisi di Jawa. “Di tempat saya, umumnya temponya gerakan dan musik sangat cepat sedangkan tarian tradisi di Jawa, cukup lambat tapi saya berusaha menyesuaikan diri walaupun cukup susah”, terangnya.

Latihan Tari Jawa

Bukan hanya melihat budaya di jawa, dalam dua minggu 16 mahasiswa asing yang mengikuti program Short Course of Environmental Conservation and Indonesian Culture (See-Conic), berlatih menari tradisional selama 6 jam.

Menurut Bintang Hanggoro Putra selaku pelatih tari jawa mereka, para mahasiswa ini memang disiapkan untuk bisa mengenal dan mempelajari kesenian dan kebudayaan Jawa. “Disini kami beri mereka latihan tari Gambang Semarang”, jelasnya.

Pria yang akrab disapa Pak Bintang ini juga mengatakan, secara kualitas mahasiswa yang mengikuti program ini memiliki semangat yang tinggi. “Saya terkesan dengan semangat dan disiplin mereka, walaupun sampai sekarang masih terlihat kaku menari, namun mereka cepat belajar dan beradaptasi”, lanjutnya.

Melalui program ini, Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum berharap mereka bisa mempelajari konservasi budaya. “Di Unnes mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Jawa, kesenian Jawa, seni kriya, dan batik. Bahkan mereka juga diajak berkunjung ke candi borobudur dan prambanan,” katanya.


DIUNGGAH : Dwi Sulistiawan Dibaca : 1.529 kali
EDITOR : Dwi Sulistiawan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *