IAIN Antasari Banjarmasin dan UNU Cirebon Belajar ke Unnes

Selasa, 17 September 2013 | 16:33 WIB


IAIN Antasari Banjarmasin dan UNU Cirebon Belajar ke Unnes
SIHONO/HUMAS

Mulai masuk ke kampus Universitas Negeri Senmarang (Unnes) dari pintu gerbang terlihat banyak tanaman pohon membuat sejuk dan nyaman sehingga menjadi inspirasi tersendiri bagi kami karena pengembangan kampus yang ideal.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin Prof Dr H Akh Fauzi Aseri MA menyampaikan itu saat memberi sambutan setelah penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Unnes, Selasa (17/9) di rektorat kampus Sekaran.

Penandatanganan oleh Rektor IAIN Antasari Prof Dr H Akh Fauzi Aseri MA dan Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman. Selain kerjasama dengan IAIN Antasari, dilakukan penandatangan nota kesepahaman pula antara Unnes dengan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon.

Rektor IAIN Antasari mengatakan, pengembangan di kampus Unnes ini perlu kami tiru dan kami teladani karena lembaga kami baru mempunyai empat fakultas dan pascasarjana yakni Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Fakultas Tarbiyar dan Keguruan, dan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora.

Hal yang sama, juga diamini Wakil Rektor I UNU Cirebon Dr Moh Badrus Salam MEd, bahwa lembaganya baru berusia dua tahun dengan jumlah mahasiswa 500 0rang. “Lembaga kami ibarat baru lahir, saya akan menimba ilmu dari Unnes dan tolong UNU ikut dipromosikan,” pinta Dr Moh Badrus Salam.

Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman menyampaikan, Unnes sudah mendeklarasikan sebagai universitas konservasi dengan dua pilar yakni konservasi alam (fisik) dan konservasi nilai, budaya, dan karakter.

Konservasi alam (fisik) menyangkut masalah lingkungan, air, arsitektur hijau dan transportasi Internal, kata Prof Fathur Rokhman.

Sedangkan konservasi nilai, budaya, dan karakter oleh Unnes diterjemahkan dengan berbagai program diantaranya dikampus dengan jalan kaki atau bersepeda untuk semua warga kampus. jika ada tamu ada kebijakan tersendiri.

Kemudian, ada gerakan menanam untuk semua mahasiswa sampai lulus, yakni ketika mahasiswa sudah skripsi harus melaporkan tanamannya. Jika tanaman itu mati diminta untuk mengganti dengan tanaman yang baru. Karena menanam itu memberikan nilai karakter. Jadi nilai-nilai ini dibangun melalui aksi, katanya.


DIUNGGAH : Sihono Dibaca : 1.315 kali
EDITOR : Sihono

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X