Greget Berawal dari Totalitas

Selasa, 26 Juni 2012 | 11:57 WIB


Greget (atau gereget dalam ejaan bahasa Indonesia) dalam seni, adalah menyatunya hati, pikiran, dan tindakan. Tiap pelaku seni saat melakukan pekerjaannya, ia tak ubahnya sedang menyatukan semua itu.

“Misalkan saja seorang penari yang dengan lemah gemulai menari, sudah tentu ia harus menyatu dengan gerakan, tidak sekedar hafal. Dengan menghayati semua aspek, menari tidak ubahnya seperti sembahyang,” papar St Wiyono, seniman senior dari Surakarta ketika menjadi pembicara dalam Sarasehan Selasa Legen, Senin (25/6) di serambi auditorium kampus Sekaran.

Hal itu, dia menuturkan, membutuhkan proses panjang dan harus dipelajari secara total. Dalam kesenian tradisi, totalitas menjadi hal yang utama. “Di Jawa kita mengenal kesenian adiuhung di antaranya tari, karawitan, dan pedalangan, yang semua itu sudah teruji oleh zaman. Betapa luar biasa pendahulu kita yang telah mencipta semua itu. Ini harus selalu kita ajarkan kepada anak-anak kita,” kata pria yang belum lama ini purnatugas dari lingkungan Taman Budaya Jawa Tengah ini.

Budaya populer

Widodo, dosen Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes yang hadir pada kesempatan itu mengatakan, di sisi lain budaya populer saat ini makin digandrungi generasi muda. Seni tradisi yang sejatinya dapat membentuk karakter dan olah rasa kini hampir-hampir tidak dilirik. “Bahkan anak saya sendiri pun tiap hari cuma nonton ‘cibi-cibi’,” kata dosen yang juga dalang ini.

Menanggapi hal itu, Wiyono menuturkan saat ini memang telah terjadi pergeseran nilai-nilai. “Sebagai orang tua, sudah semestinya kita mengajarkan nilai-nilai kearifan sebagai dasar kepada anak-anak kita. Nyatanya budaya pop sekarang ini tidak pernah ada yang bertahan lama.  Semua hanya mengedepankan popularitas dan materi,” katanya.

Sarasehan rutin ini diikuti puluhan mahasiswa, dosen, dan pemerhati budaya. Malam itu secara tidak langsung nampaknya mereka mengakui, kurangnya greget dalam berbagai hal dikarenakan terkikisnya totalitas untuk menekuni. Terutama oleh mereka yang tergolong lagi ajar.


DIUNGGAH : Dhoni Zustiyantoro Dibaca : 2.590 kali
EDITOR : Dhoni Zustiyantoro

satu komentar pada “Greget Berawal dari Totalitas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *