Gerak dan Keteguhan Hasan di Suatu Siang

Selasa, 29 April 2014 | 23:04 WIB


Gerak dan Keteguhan Hasan di Suatu Siang
humas/dhoni

Gerak tari lelaki itu tak berhenti sekalipun sedang makan, minum, atau duduk dan merebahkan badan untuk beristirahat. Cuaca terik tak mengurungkan tekad bulatnya untuk menari selama 12 jam. Wujud keteguhan dan dedikasinya dalam jagat seni tari.

Dialah Moh Hasan Bisri, dosen Prodi Seni Tari Jurusan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes) yang pada Selasa (29/4), menggerakkan tubuhnya mulai pukul 06.00 hingga 18.00 untuk memperingati Hari Tari Sedunia.

Tak melulu disertai iringan, tanpa musik pun Hasan kian kemari bergerak dari satu tempat ke tempat lain di kawasan fakultas itu. Selain dia, ikut pula menari 7 penari lain yang terdiri atas mahasiswa dan alumni di prodi yang sama. Mereka adalah Endik Guntaris, Ardiansah, Alfian Eko Widodo, Dewi Wulandari, Elinta Budy, Desi Nurmalasari, dan Hemia Jaya Artanti Gunawan.

Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum membuka acara dengan mengalungkan selendang berwarna hijau kepada 8 penari itu. Pembukaan dimeriahkan dengan atraksi barongan dari Blora. Tidak hanya 8 “penari 12 jam”, 66 kelompok penari juga ikut ambil bagian dengan menyuguhkan tari secara bergiliran di panggung terbuka dan lobi B6 FBS.

Pukul 13.30 ketika siang semakin terik, Hasan membikin gempar penonton tari di lobi B6. Lelaki kelahiran Kendal, 9 Januari 1966 itu menari di atap lantai II gedung B1 FBS. Selama tak kurang dari 10 menit di atap itu, dia terus menggerakkan tangan dengan eksotis dan sesekali berjalan.

Ya, itulah bagian dari ekspresi berkesenian. Lewat menari, mereka merepresentasikan gerakan tak ubahnya manusia dengan detak jantungnya. Terus berdetak, terus bergerak, memaknai kehidupan secara estetis.

Hasan mengaku, ketertarikannya pada dunia tari berawal dari kerinduan akan budaya Jawa ketika bermukim di Jambi. Pada masa ketika dia SMP itu, banyak temannya yang mempelajari seni tradisi asli daerah. “Terus, apa yang saya pamerkan di sini?” gelisahnya, seperti yang dia katakan kembali sesaat setelah penutupan acara.

Alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)—sekarang ISI—Surakarta ini lantas bertekad untuk mendalami seni tari lewat ekstrakurikuler ketika duduk di bangku SMA. Dirinya mengaku mendapat tentangan dari keluarga ketika memutuskan untuk kuliah di jurusan seni tari. “Kakak saya masuk di militer,” kata dia. Akhirnya, kata Hasan, ibunya memperbolehkan dengan syarat harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Meski memiliki bakat dan keinginan belajar tinggi di bidang ini, dia mengaku sempat stres pada awal perkuliahan. Apa yang dia bayangkan tentang dunia tari ternyata keliru. “Kuliah di jurusan tari ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Sangat banyak tari yang rumit, terutama tari tradisi yang berasal dari keraton. Dan semua itu harus dipelajari,” kata penyuka mi ayam ini.

Kepada mahasiswa dan siapa pun yang bergelut di bidang seni, dia berpesan untuk tidak terjebak pada jenis kesenian baru dan populer. “Jadikan tradisi sebagai latar belakang yang harus dikuasai. Kalau sudah bisa, kesenian yang baru pun akan terlihat mudah,” kata Hasan.

Persiapan dan latihan pun intensif dilakukan sebelum menari selama 12 jam. Elinta Budy, koordinator acara yang juga ikut menari, mengaku harus menjaga pola makan dan berolahraga sebulan sebelum pelaksanaan. Beberapa petugas KSR PMI pun disiagakan jika ada penari yang membutuhkan obat dan pertolongan karena kondisi fisik yang menurun.

Selain FBS, mahasiswa Unnes yang turut memeriahkan dari Fakultas Ilmu Sosial, Hima Akuntansi, BEM Fakultas Hukum, Hima Manajemen, Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Pendidikan Guru-Pendidikan Anak Usia Dini.

Selain itu, TK Ummul Qurra, SMP IT PAPB Semarang, SMA 16 Semarang, SMK Texmaco, Sanggar Galuh Rembang, Sanggar Setyo Langen Budaya Wonosobo, Sanggar Among Roso Banyumanik, Sanggar Kedaton Semarang, dan Sanggar Yasa Budaya Semarang.


DIUNGGAH : Dhoni Zustiyantoro Dibaca : 2.304 kali
EDITOR : Dhoni Zustiyantoro

5 komentar pada “Gerak dan Keteguhan Hasan di Suatu Siang

  1. Salut teruntuk Pak Hasan dlm dedikasinya 12 jam unnes menari.. Begitu pula dg ketujuh penari lainnya.. Dan jg semua warga unnes yg ikut serta dlm menyukseskan HTD 12 jam Unnes Menari.. Kerennnn.. Muga liya wektu bisa melu mrana nadyan mung nyawang saka kadohan..
    Sukses utk Unnes, Universitas Konservasi.. Salam Budaya..! :)

  2. Selamat untuk anak-anak FIS yang tergabung dalam KISS (Komunitas Ilmu Sosial untuk Seni) atas partisipasinya ikut menyukseskan Hari Tari Internasional, maju terus….

  3. Sukses Pak Kalab Hasan…padahal hari minggu barusan ketemu di kudus..eh gak nyangka selasanya langsung nari 12 jam….

  4. Salut untuk pak Hasan!
    Gerakan yang dilakukan dan durasi gerakan tersebut adalah sebuat hal yang sangat fantastis karena memerlukan tinkat ketahanan tubuh yang tinggi dan kemauan yang sangat tinggi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X