Ditantang Jurnalisme Sastrawi, Peserta SM3T Jadi Narasumber

Jumat, 21 Juni 2013 | 13:08 WIB


Ditantang Jurnalisme Sastrawi, Peserta SM3T Jadi Narasumber
tio/humas

Jika peserta pelatihan jurnalistik dasar biasanya “hanya” diminta menulis straight news, peserta pelatihan menulis berita yang denggarakan UPT Humas Unnes langsung ditantang menulis berita bergaya sastra. Padahal, sebagai genre baru, menulis berita bergenre sastrawi punya tingkat kesulitan lebih. Selain musti pintar bermain diksi, penulisan berita bergaya sastra juga harus detail dan kaya data.

Instruktur pelatihan, Sucipto Hadi Purnomo, punya alasan atas pilihan itu. Menurutnya, sudah tak zaman jika peserta pelatihan harus dituntun. Peserta harus berinisiatif mencari sendiri informasi yang diperlukan.

“Saya yakin Saudara tak perlu diceritani, baru kemudian nulis. Sudah eranya Saudara mencari sendiri,” katanya, Jumat (21/6) siang tadi.

Pelatihan menulis berita diselenggarakan UPT Humas Unnes dengan melibatkan 67 mahasiswa dari berbagai jurusan. Mereka diharapkan terampil menulis, salah satu jenis keterampilan komunikasi paling penting dewasa ini.

“Kalau dulu orang yang kuat adalah yang berotot, kemudian konsepnya bergeser orang yang kuat adalah yang kaya, kini orang yang kuat adalah yang terampil berkomunikasi. Karena itulah pelatihan ini diadakan,” lanjut Sucipto.

Kisah SM3T

Sebagai bahan penulisan, panitia mendatangan Sandra Novita Sari, peserta program Sarjana Mengajar di Daerah Terdalam, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T). Alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes ini menceritakan pengalamannya selama mengabdi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Secara jurnalistik, perjalanannya selama di Manggarai cukup menarik sehingga dapat ditulis peserta pelatihan.

Sandra, demikian gadis kelahiran Sukabumi ini disapa, misalnya bercerita, selain mengajar ia harus melayani warga Warii tempatnya bertugas. Ia menceritakan reaksi siswa dan guru di sekolah tempatnya bertugas saat melihat computer. “Eee Ibu, ajari saya tekan-tekan itu computer,” Sandra menirukan ucapan salah satu siswanya.

Haru biru saat perpisahan pun tak terhindarkan. Saat berpamitan, seorang warga memberinya selembar uang dua ribuan. “Ibu, kami beri ini uang untuk membeli tiket pesawat,” kata warga itu.


DIUNGGAH : Rahmat Petuguran Dibaca : 1.360 kali
EDITOR : Sucipto Hadi Purnomo

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X