Berantas Korupsi Perlu Sistem

Jumat, 15 Mei 2015 | 13:56 WIB


Berantas Korupsi Perlu Sistem

Berantas Korupsi Perlu Sistem

Ajakan untuk menghindari tindakan korupsi sejak dini perlu dilakukan dengan cara yang lebih sistematis. Ajakan yang selama ini telah mengemuka dinilai tidak cukup dan masih sekadar imbauan.

“Di Indonesia ajakan untuk tidak korupsi gencar dikampanyekan, tapi di sisi lain perilaku korup masih juga tinggi. Karena itu diperlukan tindakan yang lebih tersistem,” kata Director Support to Indonesia’s of Integrity Program for Sulawesi (SIPS), Kanada, Peter F Walton, dalam International Conference on Education and Social Sciences (ICESS) di Hotel Grasia, Semarang, Rabu (13/5).

Ia mengatakan, di Indonesia, ajakan untuk tidak korupsi begitu masif. Setiap lembaga telah mengimbau para karyawannya melalui berbagai slogan, poster, spanduk, dan pidato dalam berbagai kesempatan. Peter menyatakan, imbauan tersebut belum cukup membantu meningkatkan poin sebagai negara terbersih dari korupsi. “Saat ini, Indonesia menempati posisi 107 dari 177 negara terbersih di dunia.”

Konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang (FIS Unnes) tersebut dihadiri oleh sejumlah pembicara dari berbagai negara, antara lain Prof Tsuchiya Takeshi dan Prof Majima Kiyoko dari Aichi University Education, Japan, dan praktisi pendidikan dari Amerika, Erica Balazs MA. Konferensi dibuka oleh Pembantu Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama, Prof Sukestiyarno.

Guru Besar Sosiologi dan Antropologi Unnes, Tri Marhaeni Pudji Astuti, dalam paparannya menyoroti peran perempuan yang hingga kini masih menjadi makhluk kedua setelah laki-laki. Meskipun perempuan telah menjalani karier, ia mengatakan, mereka tak dapat dilepaskan dari stigma ibu rumah tangga yang hanya menjadi kanca wingking.

“Akibatnya, ketika hendak menjalani pekerjaan yang lebih berat namun sebenarnya dapat dilakukan, muncul anggapan ‘kamu, kan, perempuan’,” ujarnya. Padahal, Marhaeni mengatakan, perempuan memiliki peran sentral dalam keluarga karena kepadanya beban mengasuh anak lebih banyak diberikan ketimbang laki-laki. “Pendidikan kepada kaum perempuan harusnya lebih ditekankan untuk membentuk tumbuh kembang anak kemudian.”


DIUNGGAH : Sihono Dibaca : 451 kali
EDITOR : Rahmat Petuguran

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X