Angkat Cerita Gedong Songo Melalui Seni Jaran Kepang

Selasa, 12 Januari 2016 | 0:06 WIB


Angkat Cerita  Gedong Songo Melalui Seni Jaran Kepang
HUMAS/BURHAN

Cerita berdirinya Candi Gedong Songo sebagai tempat pemujaan digambarkan dalan sajian tari jaranan oleh Paguyuban Jaran Kepang Langen Budi Sedyo Utomo dari Desa Sombron, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang pada acara Selasa Legen ke 65 di halaman Auditorium Unnes Semarang, Senin (11/1).

Dikisahkan melalui seni jaranan adanya perintah Dewa kepada Ratu Shima untuk membangun tempat pemujaan di Gunung Suroloyo. Tempat pemujaan dibangun dengan harapan masyarakat memperoleh kesejahteraan. Ratu Shima kemudian memanggil Resi Selo Kantoro dan Resi Matang Lono untuk membangun tempat pemujaan. Atas bantuan prajurit berkuda, ke dua resi tersebut berhasil membangun tempat pemujaan di gunung Suroloyo yang dinamakan Candi Gedong Songo.

Ki Sunaryoto selaku narasumber mengatakan, cerita berdirinya Gedong Songo yang diangkat Paguyuban Jaran Kepang Langen Budi Sedyo Utomo didasarkan atas cerita turun temurun dari nenek moyang atau orang tua Desa Sombron. Jaran kepang dihadirkan menjadi prajurit yang mengantarkan Resi Selo kantoro dan Resi Matang Lono ke Gunung Suroloyo. Lalu membangun tempat pemujaaan yang dinamakan Gedong Songo. 45 setupa ada di Gedong Songo menggambarkan nafsu yang ada di 9 lubang yang ada pada manusia. “Tempat pemujaan Gedong Songo dulu dijadikan tempat untuk mendekatkan kepada Dewa sehingga manusia tidak lupa kepada penciptanya. Bentuk jaran kepang dibuat dari pring/ bambu atau deling. Deling mumpunyai makna kendel eling yang mempunyai makna, manusia harus selalu ingat pada Sang Pencipta karena adanya di dunia karena diciptakanNya”, tutur Ki Sunaryoto.

Prof Dr Muhammad Jazuli MHum selaku Dosen Seni Tari Unnes mengatakan, dinamakan jaran kepang karena dalam membuatnya bambu dianyam menjadi kepang terlebih dahulu sebelum dibentuk jaran/ kuda. Gambaran binatang kuda dipilih karena kuda dianggap mampu diajak bekerja oleh manusia. Nilai estetis pertunjukan jaran kepang dimunculkan pada, tarian, musik, lagu, busana, rias dan properti pendukung.

Jaran kepang Majapaitan merupakan nama yang dibuat oleh remaja Desa Sombron. Garapan tari menirukan gerakan prajurit Majapahit. Paguyuban menggarap tari Majapitan versi sendiri karena belum ditemukan pakem Tari Jaran Majapaitan. Iringan yang berupa lancaran dan gansaran juga digarap secara otodidak. Cerita tentang terjadinya Candi Gedung Songo diperoleh Paguyuban Jaran Kepang Langen Budi Sedyo Utomo dari cerita turun temurun.


DIUNGGAH : Muhamad Burhanudin Dibaca : 1.308 kali
EDITOR : Muhamad Burhanudin

3 komentar pada “Angkat Cerita Gedong Songo Melalui Seni Jaran Kepang

  1. Masa Majapahit(an)sebenarnya sangat jauh dari masa pembangunan candi Gedong Songo. Para sejarahwan sepakat candi Gd Songo di abad 8 sementara Majapahit abad ke-14.
    Lalu tradisi berkuda. Tampaknya di Jawa juga belum lama. Di relief-relief candi (Borobudur, misalnya)atau bahkan masa-masa sesudahnya pd candi Jawa Timur, kuda bukan merupakan kendaraan penting. Raja Hayam Wuruk saja keretanya ditarik oleh lembu!
    Namanya saja legenda dan cerita rakyat….. gothak gathuk mathuk :)
    Tp bagi pr mhs / akademisi tari hal ini patut direnungkan.

    1. Sebenar nya untuk istilah majapahit itu penamaan kostum saja . nmnya juga masyarakat kampung biasa yg tdak mengenyam sejarah ,dan pada skrg ini d tmnggung dan smrang ksenian jaranan hampir seluruh nya.menamakan tema tari dgan istilah jaranan majapahit . cobalah survey , dan tari kemaren kami coba mngkombinasikan mnjadi jaranan garapan . maaf bila masih bnyak.kekurangan

      1. Gpp mas adinx, sekiranya Anda sebagai bagian dari kelompok jaranan……Soal garapan tari jaranan-nya jalan terus. Maaf, tp soal kostum majapahit, apakah ini cuma sekadar nama? atau ingin merepresentasikan kostum zaman Majapahit? Zaman Majapahit belum ada blangkon lho! Inilah kelemahan kita, coba lihat sinetron-sinetron kita yg ber-setting kesejarahan itu.
        Komen saya terutama ditujukan untuk Unnes/Jurusan Sendratasik/Tari (sebagai bagian dr masyarakat akademis). Cuma mengingatkan, hendaknya lebih berhati-hatijika menarasikan fenomena budaya, apalagi dalam konteks “SARASEHAN BUDAYA”. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X